Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
RUPIAH tertekan di Senin (24/3) karena dolar AS menguat seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS. Risiko peristiwa utama untuk Indonesia dan rupiah di hari Selasa adalah rilis laporan Investasi Langsung Asing (FDI) kuartal I.
Peningkatan investasi langsung asing memperkuat potensi produk domestik bruto (PDB) dan dapat meningkatkan optimisme terhadap ekonomi Indonesia.
Mengingat sebagian besar mata uang negara berkembang di Asia saat ini tertekan, depresiasi tajam rupiah sepertinya memang terjadi karena apresiasi dolar. Jika dolar AS terus menguat, rupiah bisa menembus 14.000 dalam waktu dekat.
"Angka 3 lagi," ujar Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed dalam siaran persnya, Selasa (24/4).
Angka 3 sering menjadi pusat perhatian di 2018. Trump memperkirakan bahwa kebijakannya akan meningkatkan pertumbuhan tahunan menjadi lebih dari 3% per tahun.
Federal Reserve diprediksi meningkatkan suku bunga sebanyak 3 kali di tahun 2018. Walau begitu, hal yang paling mengkhawatirkan bagi trader dan investor adalah jika imbal hasil Treasury 10 tahun AS mencapai 3%.
Pada saat laporan ini dituliskan, imbal hasil surat utang negara 10 tahun AS hanya kurang 3 basis poin lagi untuk melampaui 3%, level yang belum pernah tercapai sejak 2014. "Apa yang akan terjadi apabila level ini terlampaui," imbuh Sayed.
Saat suku bunga mulai meningkat di Februari seiring dengan ketegangan sektor perdagangan, saham AS merosot tajam. Semua indeks utama AS mengalami koreksi.
Kenaikan suku bunga berarti kenaikan biaya kredit untuk perusahaan. Kenaikan suku bunga yang terus melonjak tajam akan menggerus profitabilitas secara signifikan karena biaya bunga yang meningkat.
"Investor juga akan menyesuaikan biaya modal yang dibutuhkan seiring dengan kenaikan suku bunga bebas risiko, sehingga saham menjadi kurang menarik. Pendapatan konsumen yang dapat dibelanjakan juga akan turun, karena mereka harus membayar cicilan kredit yang lebih tinggi. Jadi, kecuali jika pertumbuhan ekonomi, upah, dan profitabilitas perusahaan lebih besar dari kenaikan suku bunga, maka masa depan mungkin terlihat suram, terutama untuk saham," papar Sayed.
Harga minyak adalah hal lain yang perlu terus dipantau. Pekan lalu, Presiden Trump menuduh OPEC sengaja membuat harga emas tinggi secara artifisial.
Intervensinya muncul pascalaporan di Rabu pekan lalu yang menunjukkan bahwa Arab Saudi akan gembira jika harga minyak mentah meningkat ke $80 atau bahkan $100 per barrel. Ini sebuah pertanda bahwa OPEC dan lainnya tidak akan mengubah kesepakatan pemangkasan pasokan dalam waktu dekat.
"Walaupun kicauan Trump mungkin mendorong aksi ambil untung, dampaknya tidak akan panjang. OPEC sekarang perlu memperhatikan bagaimana harga minyak yang lebih tinggi akan memengaruhi inflasi dan suku bunga. Walaupun banyak negara saat ini kekurangan inflasi, kenaikan harga yang tajam akan semakin menekan ekonomi global yang sudah tampak lemah. Ini dapat membatasi harga minyak," tutur Sayed. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved