Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUSAHAAN Asuransi Generali Indonesia membukukan total premi sebesar Rp3,2 triliun sepanjang 2017 dengan pertumbuhan premi bruto mencapai 21% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil itu mendorong laba bersih perusahaan menjadi sebesar Rp61,3 miliar dalam delapan tahun beroperasi.
CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman mengatakan hasil yang kuat di 2017 menunjukkan ambisi untuk menjadi perusahaan asuransi yang memberikan nilai tambah bagi nasabah, meski di tengah kompetisi yang sangat menantang.
"Setiap tahun kami berkembang dengan didorong oleh berbagai inovasi baru yang disesuaikan dengan perubahan kebutuhan nasabah dan perkembangan teknologi. Inovasi-inovasi dalam hal produk, proses dan layanan inilah yang terus mendukung pertumbuhan jalur distribusi yang kami miliki, baik keagenan, bancassurance maupun bisnis grup," papar Edy melalui siaran persnya, Selasa (24/4).
Pada 2018 ini, fokus utama perusahaan adalah memperkuat produk dan proses automasi atau digitalisasi, baik untuk nasabah maupun mendukung penjualan. Menurut Edy, selain iPLAN Syariah dengan fitur wakaf yang mereka luncurkan di awal tahun, Asuransi Generali Indonesia juga akan terus melakukan perbaikan produk bersifat kesehatan.
Hal itu untuk menjawab kebutuhan keuangan nasabah pada setiap segmen dalam tiap tahap kehidupan mereka, termasuk manfaat asuransi tambahan medical plan.
Tidak hanya mencatatkan laba pertamanya, Generali Indonesia juga mencatatkan jumlah dana kelolaan yang ditutup pada tahun buku 2017 meningkat 31% ke Rp4,4 triliun. Sementara itu, rasio solvabilitas berada di posisi 317% atau 2,6 kali lipat jika dibandingkan dengan minimum 120% yang ditetapkan pemerintah.
Premi bruto Generali berada di posisi Rp3,2 triliun, naik 21% bila dibandingkan dengan Rp2,6 triliun di 2016. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja produk unit link yang tumbuh 27% sebesar Rp 2,7 triliun.
Dalam hal pemberian hak nasabah, sepanjang 2017, Generali mencatatkan dana kepada nasabah sebesar Rp544,5 miliar, meningkat sebesar 32% dari tahun sebelumnya sebesar Rp413,4 miliar.
Jalur distribusi melalui bank rekanan masih menjadi kontributor premi terbesar dengan total kontribusi 46%. Adapun channel keagenan menyumbang 44%, dan bisnis kumpulan sebesar 10% dari total premi bruto.
Edy mengungkapkan, di 2018 Asuransi Generali Indonesia berfokus pada inovasi perlindungan kesehatan untuk nasabah. Inovasi secara terus menerus dilakukan, menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan nasabah, dengan tetap melihat perkembangan dan peluang pasar.
"Memperkuat produk dengan pengembangan manfaat asuransi tambahan untuk kesehatan merupakan salah satu fokus utama Generali untuk memenangkan pasar di tahun 2018," imbuhnya.
Tren biaya perawatan kesehatan secara global meningkat rata-rata sebesar 10% per tahun berdasarkan sumber data WHO. Di Indonesia, pada 2014–2017, biaya klaim kesehatan tumbuh sebesar hampir 10% setiap tahunnya hingga mencapai lebih dari Rp9,3 triliun di 017.
Perkembangan itu didukung bertambahnya jumlah rumah sakit umum yang mencapai lebih dari 2.000, atau tumbuh 18,5% sejak 4 tahun yang lalu.
"Kita berada di era yang memang sangat dinamis dan fluktuatif, yang dibutuhkan nasabah saat ini adalah kepastian, dari sisi dana maupun kepastian perlindungan. Inovasi medical plan kami persembahkan, untuk memberikan kebebasan bagi nasabah menentukan target dana yang ingin dicapai secara pasti," tutur Edy.
Ia menerangkan produk tersebut juga satu-satunya yang menawarkan bonus hidup sehat sebesar uang pertanggungan di usia 85 tahun. Nasabah akan menerima total uang pertanggungan hingga sebesar dua kali lipat jika dibandingkan dengan dengan produk unit link. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved