Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Darmin Tekankan Nasib Rupiah Bukan yang Terburuk

Tesa Oktiana Surbakti
24/4/2018 15:44
Darmin Tekankan Nasib Rupiah Bukan yang Terburuk
(ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

RUPIAH bukan satu-satunya mata uang yang melemah di tengah penguatan Dollar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut ditekankan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution untuk mengisyaratkan agar masyarakat tetap tenang.

"Sebenarnya kalau dari prosentase pelemahan (kurs) itu, kita tidak yang terburuk. Masih banyak negara yang tajam pelemahannya. Tapi prosentase yang dilihat, jangan dilihat absolutnya. Karena kita kursnya belasan ribu Rupiah per Dolar AS," ujar Darmin usai menjadi pembicara kunci dalam AHP Business Law Forum 2018, Selasa (24/4).

Sejumlah pengamat memprediksi pelemahan Rupiah masih berlanjut seiring munculnya sentimen kenaikan tingkat suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018. Dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), pergerakan nilai tukar Rupiah per 24 April 2018 sudah berada di level Rp 13.900 per Dollar AS.

Darmin tidak menampik gejolak pelemahan nilai tukar Rupiah yang berpotensi berlanjut masih dibayangi faktor eksternal lainnya. Seperti, tekanan perang dagang AS dan Tiongkok.

"Sebenarnya gonjang-ganjing yang terjadi lebih banyak karena tekanan perang dagang. Kemudian ada tekanan (dari) AS (The Fed) akan menaikkan bunga lagi," imbuh Darmin.

Lebih lanjut dia meyakini gejolak pasar bersifat temporer. Pada akhirnya, pergerakan kurs akan kembali normal. Hanya saja, nilai tukar Rupiah sulit untuk kembali ke level Rp 13.400-13.500 per Dolar AS. Rupiah disebutnya akan menuju titik keseimbangan baru setelah melalui gejolak eksternal.

"Kalau pasar sedang bergejolak, itu selalu akan ada waktunya untuk mungkin tidak kembali ke Rp 13.500-13.400 per Dolar AS. Akan ada keseimbangan baru tapi tidak bergerak terlalu tinggi. Karena Rupiah ada gejolak hari per hari," jelas mantan Gubernur Bank Indonesia.

Kendati demikian, Darmin enggan menyebut level signifikan sebagai titik keseimbangan baru. "Rupiah akan mengarah ke angka fundamentalnya dia. Fundamentalnya berapa, sebenarnya ya masih (di) angka-angka seperti itu," tukasnya yang menggarisbawahi pelemahan Rupiah tidak serta merta mendorong revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Nilai tukar Rupiah sebagai salah satu indikator makro ditetapkan sebesar Rp 13.400 per Dolar AS. Mengingat faktor eksternal berperan besar dalam pelemahan Rupiah, pemerintah optimistis Bank Indonesia akan melakukan intervensi terbaik untuk menjaga stabilitas Rupiah agar sesuai dengan fundamentalnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya