Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Ternak Ekspor Unggul, Indonesia Siap Wujudkan Target Lumbung Pangan 2045

Cahya Mulyana
24/4/2018 15:06
Ternak Ekspor Unggul, Indonesia Siap Wujudkan Target Lumbung Pangan 2045
(ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) berupaya terus meningkatkan pendapatan negara melalui ekspor berbagai komoditas strategis pertanian, terutama produk peternakan. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita mengatakan Indonesia sedikit demi sedikit telah membuktikan upaya dalam mewujudkan target Indonesia menjadi Lumbung Pangan di Dunia pada 2045.

"Setelah ekspor komoditas peternakan lainnya seperti olahan daging ayam, pakan ternak, telur tetas ayam, kambing atau domba, vaksin dan obat hewan, serta produk pangan hewani lainnya, hari ini kita akan melakukan pelepasan ekspor perdana telur tetas ayam ULU 101 sebanyak 25.920 butir yang akan dikirim ke negara Myanmar," kata I Ketut Diarmita di sela-sela peluncuran ekspor perdana telur tetas ayam ULU 101 ke Myanmar, di Cargo 510 Bandara Soekarno Hatta Banten, Selasa (25/4).

Menurutnya, itu merupakan pengiriman awal dari total pengiriman yang direncanakan yakni sekitar 225 ribu telur pada 2018 ke beberapa negara. "Ekspor telur tetas ini adalah bukti Indonesia bisa ikut bersaing dengan negara lain dalam pengembangan teknologi persilangan unggas yang menghasilkan final stock ayam pedaging dengan kualitas premium dan sesuai dengan persyaratan internasional," ujar dia.

Ia menjelaskan, sejak 2015, Indonesia telah melakukan ekspor telur tetas ayam dengan jenis ayam ras ke Myanmar. Hingga Maret 2018, jumlah komulatif yang sudah diekspor sebanyak 10.482.792 butir dengan nilai Rp. 109,60 milyar. Berdasarkan data BPS tahun 2017, volume ekspor telur tetas ayam ras terus meningkat mencapai 27,39% dan nilai ekspor meningkat  sebesar 26,76% dibanding tahun sebelumnya. Adapun negara tujuan ekspor meliputi Myanmar, Papua Nugini, Vietnam, Malaysia, dan lain-lain.

Indonesia telah dapat membuktikan dengan sistem kompartemen bebas virus Avian Influenza (AI) yang diterapkan terdapat jaminan keamanan pangan dan diakui oleh negara lain. Ekspor sub sektor peternakan sangat fantastis, Berdasarkan data dari BPS, pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan 2017 mengalami peningkatan sebesar 14,85% dibandingkan 2016. Nilai ekspor $623,9 juta atau setara dengan Rp8,5 triliun.

Pada kesempatan yang sama pimpinan PT. ULU Sahudin menyampaikam, produk telur tetas ayam ULU 101 merupakan salah satu hasil teknologi persilangan antara ayam Pelung jantan dengan ayam ras betina indukan, menjadi final stock ayam komersial (Ayam ULU 101) yang memiliki performa dan kualitas daging yang baik, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Menurutnya, ekspor perdana telur tetas ini ke negara Myanmar menjadi langkah awal memperkenalkan Ayam ULU 101 ke pasar internasional. "Negara ekspor selanjutnya adalah Malaysia, Singapura dan Timor Leste," tambahnya.

Ade Himpuli menyampaikan, ekspor ini tentunya tidak akan menyebabkan pengurasan sumber daya genetik lokal karena merupakan hasil seleksi ketat berdasarkan kriteria perdagingan dan pemanfaatan hasil persilangannya. "Kita ingin 5-10 tahun ke depan Indonesia punya strain tersendiri untuk ayam pedaging yang diakui oleh dunia," pungkasnya.

 

Peternakan
Selain telur, ontribusi volume ekspor 2017 untuk subsektor peternakan merupakan yang terbesar pada kelompok hasil ternak, yakni sebesar 64,07%. Salah satunya adalah daging ayam. Negara tujuan ekspor subsektor peternakan terbanyak adalah Hongkong (23,10%) dan China (21,96%). Sejauh ini, secara keseluruhan peternakan Indonesia sudah mampu menembus lebih dari 110 negara.

Secara khusus, ekspor daging ayam pada 2017 mencapai 325 ton, meningkat 1.800% dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga dengan ekspor telur unggas sebanyak 386 ton atau meningkat 27,39% dibanding 2016. Secara umum, sub sektor peternakan Indonesia turut meningkatkan ekonomi negara. Selama 2015-2017 misalnya, rata-rata pertumbuhan volume ekspor mencapai 8,16%, dan nilai ekspornya sebesar 18,69%.

"Dengan mulai terbukanya akses pasar beberapa negara, saya berharap kepada semua pelaku usaha, termasuk PT. ULU untuk terus dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk siap ekspor, sehingga produk peternakan Indonesia lebih mampu bersaing di perdagangan internasional," jelasnya.

Meski demikian, lanjut dia, pelaku usaha juga harus puunya kemampuan membaca peluang dunia, jika kita cermati permintaan global masih cukup besar salah satunya adalah pasar di Timur Tengah dan negara-negara mayoritas muslim untuk produk bersertifikasi halal. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya