Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Agresivitas Sentimen Kenaikan Suku Bunga AS Tekan Rupiah

Tesa Oktiana Surbakti
23/4/2018 19:10
Agresivitas Sentimen Kenaikan Suku Bunga AS Tekan Rupiah
(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

NILAI tukar rupiah kembali melemah seiring pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat terhadap sejumlah mata uang dunia. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (23/4) mencapai 13.894 per dolar AS.

"Penguatan solar AS terhadap mata uang utama dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ini didorong oleh kenaikan signifikan dari yield US Treasury (obligasi negara AS) mendekati level 3% pada pekan lalu," ujar ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Media Indonesia, Senin (23/4).

Kenaikan yield US Treasury, sambung Josua, dipengaruhi oleh rilis Beige Book dari bank sentral AS, Federal Reserve, yang cenderung optimistis terhadap proyeksi indikator makro AS. Khususnya, tingkat inflasi yang diprediksi lebih tinggi sebagai konsekuensi penaikan tarif bea masuk impor dan melambungnya harga minyak dunia di atas level US$65 per barel.

"Sentimen kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif memberikan tekanan pada pasar keuangan regional. Baik di pasar saham dan obligasi yang pada akhirnya memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang," papar Josua.

Menurut pasar Surat Utang Negara (SUN) per 18 April 2018, investor asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp2,7 triliun dalam waktu 3 hari. Sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung awal Mei mendatang, pelaku pasar global masih mencermati data ekonomi makro AS, seperti konsumsi barang tahan lama, pertumbuhan domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2018, hingga konsumsi masyarakat.

Sementara itu, bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) pada Juni mendatang.

"Tren pelemahan rupiah diperkirakan bersifat sementara. Ini karena pelaku pasar masih akan mengantisipasi data (ekonomi makro) AS. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi capital flow (arus modal keluar) di negara berkembang meliputi growth rate differential dan interest rate differential antara negara maju dan negara berkembang, di samping sentimen global risk aversion," papar Josua.

Pun, dampak volatilitas rupiah disebutnya akan mempengaruhi dunia usaha. Hal ini tidak lepas dari ketergantungan sejumlah sektor ekonomi domestik terhadap bahan baku impor.

Apabila tren harga bahan baku berlanjut seiring dengan pelemahan rupiah, kegiatan produksi sektor ekonomi akan terguncang. Belum lagi penambahan beban biaya impor akan diteruskan ke konsumen yang kemudian mendorong kenaikan tingkat inflasi domestik.

Josua berpendapat korporasi perlu melakukan transaksi lindung nilai untuk memitigasi risiko nilai tukar. Di sisi lain, kenaikan suku bunga di bank sentral AS juga mempengaruhi investasi. Mulai dari investasi portofolio hingga investasi langsung di negara berkembang.

"Pemerintah dalam hal ini perlu meningkatan efektivitas dan produktivitas stimulus fiskal untuk tetap menjaga growth rate differential di level yang manageable. Bank Indonesia pun perlu meningkatkan keyakinan dari pasar sehingga tidak terjadi kepanikan di pasar keuangan," kata Josua. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya