Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) menyempurnakan komposisi Giro Wajib Minimum rata-rata untuk mendorong likuiditas perbankan. Aturan GWM rata-rata denominasi rupiah untuk bank umum ditetapkan sebesar 6,5% dari dana pihak ketiga (DPK).
Dalam aturan yang sebelumnya yang terbagi dalam GWM tetap 5% dan GWM rata-rata 1,5%, per 16 Juli mendatang menjadi GWM tetap 4,5% dan GWM rata-rata 2%.
Aturan tersebut disambut baik dan membuat perbankan bisa semakin agresif menyalurkan kredit. "Kebijakan tersebut lebih memudahkan bank mengatur likuiditas dan mengefisienkan unused liquidity. Salah satu dampaknya adalah ada kelonggaran likuiditas yang bisa digunakan untuk menambah kredit," ujar Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Nafas saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Minggu (22/4).
Dengan kelonggaran likuiditas tersebut, lanjut Rohan, Bank Mandiri optimistis target pertumbuhan kredit tahun ini bisa mencapai 12%. "(Upaya yang dilakukan) memfokuskan pertumbuhan di sektor kredit ritel, kredit korporasi dan kredit mikro serta KUR (kredit usaha rakyat)," tukasnya.
Senada, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso menyebut kebijakan BI bisa menambah likuiditas perbankan. "Bagi kami (BCA) sampai saat ini likuiditas masih cukup baik dengan posisi 74%-76% LDR (loan to deposit ratio)," ucapnya.
Meski demikian, elonggaran likuiditas tersebut belum membuat BCA merevisi target pertumbuhan kredit tahun ini yang konservatif di angka 9-10%.
Lebih jauh, BCA tidak menutup kemungkinan menaikkan target pertumbuhan kredit seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi. Pasalnya pada triwulan I tahun ini pertumbuhan kredit BCA jauh di atas ekspektasi sebesar 14,9%.
"Tentunya jika ada kesempatan dan keadaan membaik kami akan menyalurkan kredit lebih agresif. Target kami sebelumnya hanya 8%-10% namun kenyataan triwulan I double digit," jelasnya.
Begitu pula dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Direktur Utama BTN Maryono mengatakan ketentuan GWM itu memberikan kesempatan perbankan untuk lebih memaksimalkan likuiditas.
"Ketentuan yang baru itu berikan kemudahan, fleksibilitas, kepada likuidititas kita semakin lebih dipoduktifkan," ucapnya.
Hal tersebut membuat BTN optimistis pertumbuhan kredit pada tahun ini bisa mencapai target 20%. Pasalnya hingga triwulan I tahun ini saja, kredit yang sudah disalurkan mencapai Rp202,5 triliun atau tumbuh 19,34% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penopangnya yakni permintaan terhadap hunian yang masih tinggin
"Potensi perumahan FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan)cukup besar, KPR subsidi juga potensi sudah mulai meningkat, saya pikir ini berika peluang yang baik untui mencapai target," pungkas Ketua Himbara tersebut. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved