Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMITRAAN dalam pengelolaan asset migas menjadi salah satu prioritas PT Pertamina (persero) menjawab tantangan industri minyak dan gas bumi (migas) saat ini. Pergerakan harga minyak dunia, kebijakan internasional, serta kepastian hukum di Indonesia merupakan disruptive event yang sangat berpengaruh pada bisnis migas.
Hal tersebut disampaikan Vice President Corporate Business Strategic Planning Pertamina Ernie D Ginting, dalam keterangan persnya, Kamis (19/4).
Ia mengungkapkan bisnis migas memiliki karakter yang unik dan spesifik, yakni berisiko tinggi (high risk), pemanfaatan teknologi tinggi (high technology), dan memerlukan modal kerja yang besar (high capital). Selain itu, investasi yang dilakukan pada industri migas memerlukan waktu panjang untuk bisa dimonetisasi alias diambil keuntungannya.
Tantangan bisnis energi juga didorong oleh kondisi eksternal, seperti geopolitik, kondisi bisnis, dan aspek lingkungan. Contohnya, harga minyak dunia yang mengalami volatilitas tinggi pada tiga tahun terakhir.
Pada 2015, harga minyak jenis brent sempat turun hingga level US$30 per barel, padahal sebelumnya memiliki rata-rata US$100 per barel. Kini, pada pertengahan April 2018, minyak jenis ini telah bergerak naik menjadi US$68 per barel.
“Pertamina harus mengelola dengan baik faktor-faktor eksternal dan internal ini. Termasuk, kepastian hukum di dalam negeri dan aturan internasional seperti Paris Agreement dan kewajiban di beberapa negara terkait upaya low emission dengan kualifikasi Euro4 yang Pertamina juga sudah mulai mengimplementasikan,” jelas Ernie.
Dengan kondisi demikian, Ernie menambahkan, kemitraan dengan perusahaan lain menjadi kebutuhan dan kelaziman bagi pemain migas. Saat ini, Pertamina bertindak sebagai operator pada sekitar 63% dari total ladang migas yang dimiliki. Sebanyak 10% di antaranya dengan mitra dan sisanya nonoperator.
Kemitraan menjadi salah satu strategi yang akan diutamakan Pertamina untuk membagi resiko, modal, dan akses teknologi. “Dibandingkan dengan international oil company (IOC), Pertamina masih sangat kecil dalam hal keuangan dan produksi. Kami berharap dukungan dari pemerintah,” tutup Ernie. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved