Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH menargetkan pada 2025 industri petrokimia dalam negeri mampu menghasilkan lebih dari 4 juta ton berbagai bahan kimia. Dengan demikian, angka importasi bahan kimia untuk kebutuhan industri yang kini nilainya mencapai US$20 miliar per tahun dapat ditekan.
Bahan-bahan kimia tersebut misalnya nafta cracker, metanol dan butadiene yang merupakan bahan baku utama dalam proses produksi produk-produk penting seperti plastik, tekstil, cat, kosmetika, dan farmasi.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengungkapkan saat ini kebutuhan bahan kimia sebagai bahan baku produksi di Indonesia mencapai 6 juta ton per tahun. Padahal, kapasitas terpasang yang dimiliki saat ini hanya 800 ribu ton. Alhasil, industri di sisi hilir harus mengimpor bahan setengah jadi untuk membantu proses produksi mereka.
“Industri petrokimia kita memang masih dalam proses menuju perbaikan. Selama 20 tahun tidak ada investasi yang masuk untuk sektor itu. Terakhir pada 1995, waktu itu Chandra Asri menanamkan modal untuk membangun pabrik bahan kimia. Sejak itu tidak ada lagi,” ujar Sigit dalam acara Industrial Summit di JCC, Jakarta, Kamis (5/4).
Begitu kecilnya minat investor untuk menanamkan modal di sektor petrokimia, lanjut Sigit, tidak terlepas dari besarnya dana yang harus digelontorkan untuk membangun berbagai infrastruktur pendukung.
“Tetapi sekarang pemerintah melakukan promosi besar. Kami gaet investor untuk menanamkan modal, membuat pabrik dengan kapasitas besar,” tuturnya.
Sigit mengungkapkan, Chandra Asri selaku investor lokal, secara bertahap hingga 2021 akan mengeluarkan dana sebesar US$6 miliar untuk menambah kapasitas produksi hingga 1 juta ton.
Di luar itu, terdapat pemain baru yakni Lotte Chemical Titan yang akan membangun pabrik berkapasitas 1 juta ton nafta cracker per tahun. Genting Oil Natuna pun akan membangun pabrik metanol di Papua dengan kapasitas 1,8 juta ton. Kemudian disusul Pupuk Indonesia yang bekerja sama dengan Ferrostaal, salah satu perusahaan asal Jerman, juga untuk memproduksi methanol dengan kapasitas 1 juta ton.
“Ini memang butuh waktu. Tetapi kalau kita mulai dari sekarang, hasilnya akan dapat dirasakan dalam beberapa tahun ke depan. Kita akan memiliki produksi lebih dari 4 juta ton berbagai bahan kimia untuk keperluan bahan baku industri. Kalaupun nanti kebutuhannya meningkat, setidaknya kita bisa memenuhi 50% kebutuhan itu dari hasil dalam negeri,” tandas Sigit. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved