Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kondisi perekonomian yang masih cukup menantang, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (ATPI), anak usaha PT Pertamina (Persero), tetap mampu mencatat kinerja positif. Sepanjang 2017, perseroan membukukan laba entitas induk (nonkonsolidasi) sebesar Rp285,4 miliar, naik 71,65% ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar Rp 166,3 miliar.
Presiden Direktur ATPI Indra Baruna menjelaskan peningkatan laba itu turut didukung kondisi ekonomi global dan nasional. Tahun lalu, perkembangan industri asuransi umum dan reasuransi masih cukup menantang di tengah perbaikan kondisi ekonomi makro domestik.
"Dalam lima tahun terakhir, rata-rata kenaikan laba setelah pajak TPI terjaga di kisaran 8%, dua kali lipat dari CAGR (laju pertumbuhan majemuk tahunan) kenaikan laba industri. Namun, tahun 2017 peningkatan laba bersih kami naik 72% yoy," ungkap Presiden Direktur ATPI Indra Baruna di Jakarta, Kamis (5/4).
Sepanjang 2017, Indra mengakui perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kondisi pasar yang belum terlalu kondusif. “Tahun lalu, banyak proyek migas yang tertunda akibat melemahnya harga minyak dunia,” terangnya.
Menghadapi situasi demikian, menurut Indra, perseroan merumuskan berbagai kebijakan strategis untuk meraih setiap peluang dan potensi yang muncul. Di sektor migas dan energi, perseroan mengoptimalkan sinergi dengan Pertamina Group dan mengawal proyek-proyek Pertamina di luar negeri untuk memperluas pasar nondomestik.
“Manajemen perseroan menerapkan kebijakan yang semakin selektif dalam memilih risiko.” ujar Indra.
Direktur Keuangan dan Jasa Korporat ATPI Muhammad Syahid menambahkan, hasil underwriting perseroan naik 35,42% menjadi Rp488,7 miliar dari sebelumnya Rp360,9 miliar. Hasil investasi meningkat 16,07% dari Rp166,8 miliar menjadi Rp193,7 miliar.
Kemudian, pendapatan premi neto naik 7,39% dari Rp 654,4 miliar menjadi Rp702,7 miliar. Kenaikan hasil underwriting yang cukup besar itu ditopang kemampuan perseroan untuk menurunkan klaim bersih terhadap premi.
"Hasil ini merupakan dampak dari kebijakan perseroan yang semakin hati-hati dalam menutup risiko dan peningkatan retensi untuk risiko yang baik," ungkap Syahid.
Di tengah penurunan suku bunga simpanan sepanjang 2017, hasil investasi perseroan pun masih terus tumbuh. “Kenaikan hasil investasi ini didukung strategi manajemen portofolio investasi perseroan yang mampu memanfaatkan kondisi penguatan pasar modal,” jelas Syahid.
Tahun lalu, kondisi finansial perseroan sangat sehat dengan posisi ekuitas meningkat 9,30% dari Rp3,4 triliun menjadi Rp3,7 triliun. Rasio solvabilitas (risk based capital/RBC) pun tercatat sebesar 378,09%, jauh di atas persyaratan minimum sebesar 120%. Kondisi ini juga menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar klaim para tertanggung.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, rasio pencapaian tingkat solvabilitas sekurang-kurangnya adalah 100% dengan target internal paling rendah 120% dari modal minimum berbasis risiko (MMBR).
Tahun lalu, ATPI juga berhasil mempertahankan peringkat 'A-' (excellent) untuk kategori kekuatan finansial dan peringkat 'a-' untuk kategori kredit jangka panjang dari AM Best.
“ATPI menjadi satu-satunya perusahaan asuransi umum nasional yang memiliki peringkat A-,” ungkap Syahid.
Sepanjang 2017, menurut Indra Baruna, manajemen perseroan menerapkan kebijakan yang semakin selektif dalam memilih risiko. Tahun lalu, perseroan menambahkan penyertaan modal ke PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu Re). Per 31 Desember 2017 kepemilikan saham ATPI (melalui entitas anak PT Tugu Pratama Interindo) bertambah menjadi sebesar 65,05% dari 37,66%.
“Masuknya Tugu Re ke dalam neraca konsolidasi mampu mendongkrak kinerja keuangan konsolidasian ATPI,” tutur Indra.
Sebagai perusahaan asuransi yang banyak menggeluti sektor migas, rendahnya harga minyak dunia juga berdampak kepada perseroan. Ketika harga minyak dunia mulai merangkak naik, perseroan mampu membukukan kenaikan premi. Seiring dengan menguatnya pemulihan ekonomi domestik yang diikuti kenaikan harga minyak dunia dan harga komoditas, perseroan mengharapkan pertumbuhan laba ke depan rata-rata 14% per tahun. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved