Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kenaikan Pendapatan Go-Jek Diperkirakan Hanya Sementara

Erandhi Hutomo Saputra
22/3/2018 22:45
Kenaikan Pendapatan Go-Jek Diperkirakan Hanya Sementara
(Antara)

HASIL riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menyebutkan rata-rata pendapatan mitra pengemudi Go-JeK meningkat hingga 44%. Akan tetapi, pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai kenaikan pendapatan itu hanya bersifat sementara.

"(Kenaikan pendapatan) hanya sementara, saya yakin tidak akan awet," ujar Djoko di Jakarta, Kamis (22/3).

Prediksi tersebut, kata dia, karena jumlah pengemudi Go-Jek yang semakin banyak sehingga persaingan semakin ketat. "Mungkin juga banyak kejadian kriminal sangat berpengaruh. Dulu janji jadi Go-JeK gaji Rp8 juta sekarang Rp3 juta saja susah," ucapnya.

Djoko pun tidak yakin dengan peningkatan kontribusi Go-JeK hingga Rp9,9 triliun terhadap perekonomian nasional. Pasalnya, sekalipun ada efek peningkatan, di sektor lain juga ada penurunan akibat Go-JeK.

"Ada pengalihan di sektor lain, misal dari tukang becak sekarang jadi Go-JeK, petani jadi Go-JeK, dilihat sektor pertanian naik engak? Enggak mau jadi petani lagi dia, jadi kita tidak bisa melihat satu sisi, kalau ini naik tapi yang lain turun sama saja," cetusnya.

Terpisah, Kepala LD FEB UI Turro Wongkaren mengakui pasti ada dampak bagi pihak-pihak yang tidak diuntungkan dengan adanya transportasi berbasis daring tersebut. Perusahaan teknologi seperti Go-Jek memang menawarkan efisiensi sehingga menimbulkan disrupsi.

"Ada pergeseran, saya tidak mengatakan korban tapi memang ada yang tidak diuntungkan," ucap Turro.

Akan tetapi, riset LD FEB UI tidak melakukan penelitian secara khusus dampak adanya transportasi daring. Pasalnya tidak ada data yang bisa mendukung.

"Berapa yang sebelum Go-Jek narik transportasi apa, kemudian berapa banyak yang berpengaruh kita tidak punya datanya. Salah satunya berapa yang narik bus, naik ojek pangkalan untuk bisa hitung berapa banyak itu kita perlu datanya," ungkapnya.

Adapun peneliti LD FEB UI Paksi CK Walandaow menilai indikasi yang terdampak paling besar akan adanya Go-Jek yakni angkutan kota dan bus. Hal itu berdasarkan dari pertanyaan kepada konsumen pilihan transportasi apa yang dipakai sebelum berpindah ke Go-jek.

"Tapi tetap yang paling besar berpindah itu dari kendaraan pribadi," pungkasnya. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya