Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGARA adidaya Amerika Serikat memasuki hari ketiga penutupan pelayanan pemerintahan (shutdown) setelah Kongres AS gagal mencapai kesepakatan anggaran jangka pendek. Walaupun situasi ini menjadi pembahasan besar di media, namun investor sepertinya tidak terlalu khawatir atas dampaknya terhadap investasi.
Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed melihat aksi harga di sebagian besar kelas aset menyiratkan bahwa pasar finansial semakin kebal menghadapi drama politik AS.
Walaupun penutupan ini kemungkinan dapat memberi dampak terhadap pertumbuhan karena penurunan belanja, namun dampaknya terhadap PDB sangat bergantung pada durasi penutupan itu sendiri.
"Menurut Standard & Poor's, terakhir kali pemerintah AS mengalami shutdown pada 2013 selama 16 hari, ekonomi AS harus kehilangan US $24 miliar. Dengan kata lain, PDB Q1 dapat menurun sekitar 0,3% rata-rata untuk setiap pekan pada saat pemerintah mengalami shutdown," ujar Sayed, melalui rilis yang diterima, Selasa (23/1).
Saham Asia sedikit melemah di Senin (22/1), namun mengingat Yen dan emas stabil pada saat laporan ini dituliskan, trader sepertinya menduga drama akan segera berakhir.
"Kami tidak tahu apakah Demokrat dan Republik akan mengeluarkan undang-undang jangka pendek hari ini agar pemerintahan dapat berjalan," ucapnya.
Sementara itu pemerintah Jerman sepertinya semakin dekat dengan pembentukan koalisi setelah Partai Demokrat Sosial (SPD) memilih untuk memasuki diskusi koalisi resmi.
Euro menguat pada awal sesi hari ini namun kehilangan sebagian besar peningkatan ini beberapa jam setelahnya. Meninjau hanya 56% dari SPD yang memberi suara untuk mendukung diskusi, masih ada risiko penolakan kesepakatan koalisi final yang mungkin membatasi peningkatan Euro pada saat ini.
Pergerakan paling menarik di pasar hari ini adalah imbal hasil obligasi treasury 10 tahun AS yang melampaui 2,67% untuk pertama kalinya sejak Juli 2014. Ini mengantarkan imbal hasil 10 tahun AS - Jerman menjadi 208 bps setelah merosot ke 198 bps pada 16 Januari.
"Saya meyakini bahwa dolar AS agak segera mendapat untung dari peningkatan spread ini, terutama apabila ECB menurunkan imbal hasil obligasi Eropa dalam rapat hari Kamis," ujarnya.
Bank of Japan (BoJ) juga dijadwalkan untuk menggelar rapat pekan ini. Kedua bank sentral ini diprediksi tidak akan membuat perubahan kebijakan. BoJ akan mempertahankan suku bunga kebijakan di -0,1% dan Japan Government Bond (JGB) 10 tahun di 0%.
European Central Bank (ECB) akan mempertahankan suku bunga acuan di 0%, suku bunga kredit marginal di 0,25%, dan suku bunga deposito di -0,4%.
Walaupun notulen terbaru ECB mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan akan membuat penyesuaian pada awal 2018, saya rasa kinerja Euro yang kuat akan menjadi perhatian mereka.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved