Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Neraca Dagang Indonesia Surplus US$ 11,84 Miliar

Tesa Oktiana Surbakti
15/1/2018 15:44
Neraca Dagang Indonesia Surplus US$ 11,84 Miliar
(Ilustrasi)

NERACA perdagangan Indonesia sepanjang 2017 mengalami surplus US$ 11,84 miliar. Capaian tersebut tidak lepas dari pemulihan harga komoditas yang sempat anjlok.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengemukakan surplus dalam neraca perdagangan 2017 lebih tinggi dibandingkan dua tahun terakhir. Pada 2016 surplus neraca perdagangan tercatat US$ 9,53 miliar, sedangkan pada 2015 nilai surplus sebesar US$ 7,67 miliar.

Pihaknya optimistis surplus kembali berlanjut di kinerja perdagangan 2018. Mengingat, harga sejumlah komoditas utama, seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batubara, begitu pula harga minyak dunia, menunjukan tren kenaikan.

"Kita optimis 2018 surplusnya lebih besar lagi. Sejak 2009 sampai 2011 neraca perdagangan kita bagus karena harga komoditas bagus sekali. Cuman kita alami defisit 2012 hingga 2014. Nah di 2017 (kinerja perdagangan) sudah menjanjikan lagi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/1).

Adapun capaian surplus dalam neraca perdagangan 2017 dipengaruhi oleh kinerja ekspor sebesar US$ 168,72 miliar atau naik 16,2 persen dibandingkan periode 2016. Sementara itu, kinerja impor tercatat US$ 156,89 miliar atau naik 15,66 persen dari periode serupa tahun 2016 lalu.

Menyoroti neraca perdagangan Desember 2017, survei BPS menyatakan terjadi defisit US$ 0,27 miliar. Defisit tersebut merupakan kali kedua sepanjang 2017 setelah sebelumnya Juli mencatatkan defisit.

Defisit neraca perdagangan Desember 2017 merupakan hasil dari kinerja impor yang lebih tinggi yakni US$ 15,06 miliar, dari kinerja ekspor sebesar US$ 14,79 miliar. Di satu sisi, kinerja ekspor Desember 2017 mengalami penurunan 3,45 persen dibandingkan November 2017 yang mencapai US$ 15,32 miliar.

Penurunan ekspor disebabkan pelemahan ekspor non migas hingga 5,41 persen, namun ekspor migas tercatat naik 17,96 persen.

"Defisit Desember ini merupakan defisit kedua di tahun 2017. Sebelumnya terjadi di Juli. Kita harus hati-hati karena harga minyak terus mengalamk peningkatan lantaran ada pemangkasan produksi dari OPEC dan Rusia. Rata-rata perkembangan harga minyak selama November ke Desember naik dari US$ 59,4 per barel ke US$ 60,9 per barel. Sekarang sudah naik lagi," jelas Kecuk, sapaan akrabnya.

Pemerintah, menurut dia, harus segera mengantisipasi tren kenaikan harga minyak yang diharapkan tidak bergerak semakin liar. Apalagi harga minyak dunia saat ini sudah di atas asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 melalui Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$ 48 per barel.

Tidak hanya bagi perekonomian domestik, pun fluktuasi harga minyak berpengaruh terhadap kinerja perdagangan terutama sektor minyak dan gas bumi (migas). Maka dari itu, diperlukan kombinasi dalam struktur perdagangan nasional terutama dari sektor non migas.

Kecuk menambahkan perekonomian negara tujuan ekspor non migas Indonesia mengalami pertumbuhan positif. Adapun tiga negara dengan kontribusi terbesar dalam struktur ekspor non migas nasional ialah Tiongkok 13,94 persen, Amerika Serikat 11,20 persen dan Jepang 9,60 persen.

"Ketika perekonomian negara tujuan ekspor membaik, tentu ada pengaruhnya. Untuk perluasan pasar tentu tetap harus dilakukan. Contoh Turki itu selama 2017 ekspornya naik 14,16 persen, Mesir naik 12,66 persen dan Brazil naik 11,58 persen.

Harus diakui share-nya memang kecil, tapi tidak boleh dipandang seperti itu," lanjutnya yang menegaskan kinerja ekspor merupakan kombinasi dari perkembangan harga komoditas, perekonomian mitra dagang dan perluasan pasar non tradisional.

Dia menambahkan untuk mengubah struktur perdagangan nasional tidak semudah membalikan telapak tangan. Sebelumnya eskpor Indonesia cenderung berbasis komoditas, namun perlahan pemerintah menggulirkan kebijakan yang mendorong sektor pengolahan guna memberikan nilai tambah.

Sektor non migas yang berkontribusi besar terhadap kinerja ekspor mencakup pertanian, pengolahan, berikut pertambangan dan lainnya. Adapun dalam struktur impor nasional, peran golongan bahan baku atau penolong mencapai 74,99 persen dari total impor.

Pangsa impor non migas nasional masih didominasi tiga negara utama, yakni Tiongkok 26,79 persen, Jepang 11,47 persen dan Thailand 6,93 persen.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya