Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPANJANG tahun ini, Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) telah mencairkan dana sebesar Rp11,7 triliun untuk pembebasan lahan terkait Proyek Strategis Negara (PSN). Dana tersebut digunakan untuk membiayai pembebasan 17.219 bidang tanah di seluruh Indonesia.
Dari alokasi tersebut, pembebasan lahan untuk proyek jalan tol Trans Jawa memiliki porsi paling besar dengan total 10.170 bidang tanah senilai Rp4,39 triliun. Adapun, pembebasan lahan tol Trans Sumatera mencapai Rp1,84 triliun untul 3.687 bidang tanah.
Direktur LMAN Rahayu Puspasari mengungkapkan, untuk periode 2017, dari sisi pembiayaan atau pendanaan lahan, pihaknya memang memfokuskan diri pada pembangunan jalan tol.
Ia mengatakan akses adalah salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan indikator perekonomian negara. Dengan dibangun banyaknya infrastruktur jalan di seluruh Tanah Air, akses bagi masyarakat akan menjadi lebih mudah, biaya logistik akan lebih murah dan investasi yang masuk pun diyakini akan lebih kencang.
"Sesuai fungsi dan kewenangan, kami terus mendukung pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh pemerintah untuk mendorong perekonomian negara," ujar Puspa di Jakarta, Rabu (27/12).
Sedianya, pada tahun ini, berdasarkan Anggaran Pendapatan dan Pelanja Negara Perubahan (APBNP) 2017, LMAN mengalokasikan dana dari sebesar Rp32,05 triliun yang digunakan untuk pembebasan lahan 78 proyek PSN. Adapun, rinciannya adalah Rp25,2 triliun ditujukan untuk 43 ruas tol, Rp3,8 triliun untuk infrastruktur kereta api, Rp2,3 triliun untuk 27 pembangunan bendungan dan 1 proyek tanggul laut, serta Rp500 miliar untuk pelabuhan.
Sementara, pada 2018, kepercayaan pemerintah kepada LMAN semakin besar. Hal itu tergambar dari peningkatan alokasi dana APBN menjadi Rp35,4 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendanai pembebasan lahan bagi 65 PSN dengan rincian 23 proyek jalan tol senilai Rp18,3 triliun, 40 pembangunan bendungan senilai Rp13,27 triliun dan dua infrastruktur kereta api di Sumatera sebesar Rp4 triliun.
Tidak hanya menangani pembiayaan untuk pembebasan lahan, LMAN juga mengelola aset negara.
Pada 2017, LMAN mendapatkan hak kelola beberapa aset eks PT Pertamina yakni Kilang Liquefied Natural Gas (LNG) Arun dengan nilai aset Rp11,05 triliun dan Kilang LNG Badak dengan total aset Rp16,03 triliun, tanah di Jalan Terogong Jakarta Selatan senilai Rp1,32 triliun dan tanah serta bangunan di Jalan Dipatiukur, Bandung Rp5 miliar.
LMAN juga bertanggung jawab atas pengelolaan aset atas beberapa properti seperti rumah tinggak, ruko, apartemen dan gedung senilai Rp296,99 miliar.
Walaupun tidak berorientasi pada profit, dari berbagai aset yang dikelola, lembaga yang baru dibentuk pada akhir 2015 lalu itu bisa membukukan pendapatan operasional sebesar Rp249 miliar sepanjang tahun ini.
Pendapatan tersebut berasal dari pengelolaan aset LNG sebesar Rp237 miliar dan properti Rp12,88 miliar.
Adapun, untuk pendapatan operasional pada kuartal pertama 2018, LMAN mencanangkan target yang sangat ambisius yakni Rp183 miliar dari LNG Arun dan Badak serta Rp53,7 miliar dari properti.
Total target untuk periode kuartal pertama 2018 itu hampir menyamai capaian sepanjang 2017.
"Perhitungan itu didasari dari potensi LNG yang bagus. Arun akan kami jadikan Kawasan Ekonomi Khusus, nanti di sana akan jadi LNG Hub sehingga pemasukannya cukup besar. Properti juga akan ada banyak perpanjangan kontrak. Nilai-nilai itu yang masuk perhitungan," pungkas Puspa.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved