Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KENAIKAN harga saham suatu emiten salah satunya didorong oleh sektor yang digeluti oleh perusahaan tersebut. Dalam hal ini, sektor perumahan, masih memiliki peluang yang masih besar.
Selain memang ada perhatian khusus di sisi supply terkait pembangunan infrastruktur dari pemerintah, di sisi demand, Indonesia memiliki bonus demografi, dimana usia produktif yakni milenial mendominasi jumlah penduduk. Mereka yang baru bekerja, berpenghasilan namun belum memiliki rumah, menjadi modal dasar sasaran bagi sektor perumahan.
Kepala Ekonom Bank BTN Winang Budoyo mengatakan kontribusi sektor perumahan masih kecil, di bawah 3 % terhadap PDB Indonesia. Artinya potensi masih bisa didorong lagi.
Harga saham PT Bank Tabungan Negara (Persero)Tbk tercatat turut terkerek signifikan sejak mereka fokus pada program pemerintah di bawah kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat yaitu pembangunan satu juta rumah. Sejak tiga tahun bergerak pada perumahan subsidi ini, harga saham mereka berhasil naik sebesar 191%.
Di minggu kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi. Ketika kebijakan AS membuat semua berpikir uang kembali masuk AS, tapi Jakarta Composite Index (JCI) / IHSG selalu mencetak rekor tertinggi. Padahal melihat kondisi saham Indonesia Price to Earning Ratio (P/E Ratio) sudah masuk dalam level tengah, atau mulai mahal. Investor semestinya sudah mulai malas karena PER kita lebih tinggi dari Thailand.
"Ternyata masih banyak investor asing yang masuk ke Indonesia tidak sekadar melihat dari P/E Ratio tapi juga dari profitabilitas perusahaan yang tercatat di BEI. Jadi meskipun kondisi ekonomi makro hanya 5%, tapi profitabilitas dari perusahaan terus naik terutama sektor perbankan. Ini yang harus dikejar," ujarnya pada Forum Group Discussion dengan tema "Membuka Ruang FLPP untuk Menyukseskan Program Sejuta Rumah", di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu malam (24/12).
Pada jangka waktu 2015 sampai 2017, secara tahunan (yoy), pada 2015, JCI (IHSG) tercatat mengalami pertumbuhan negatif, sedangkan pada tahun 2016, IHSG berhasil pulih dan tumbuh 15% . Kemudian di 2017, secara year to date, IHSG sebesar 17%.
Sementara harga saham Bank BTN, pada 2015 di tahap awal program sejuta rumah pada bulan April, selama 2015 harga saham BTN naik hanya 15%, tetapi lebih baik dari IHSG. Memasuki 2016, tumbuhnya 34% dan 2017 harga saham tumbuh 101% ytd, dimana IHSG hanya tumbuh 17%.
"Selama periode 3 taun sejak awal program satu juta rumah, harga saham Bank BTN sudah naik 191% ,sementara JCI hanya 17%. Jadi memang kalau dilihat dari profitabilitas perusahaan di Indonesia termasuk BTN terus mendorong IHSG naik,"
Meski demikian diakui Winang, gejolak harga saham sempat membuat perusahaan ketar-ketir di pertengahan tahun.
Karena pada Juni 2017, Bank BTN sempat mencetak level tertinggi 2.700. Kemudian sempat turun di Juli karena pemerintah mengeluarkan APBNP ketika alokasi untuk FLPP dipangkas dari Rp 9,7 triliun menjadi Rp 3,1 triliun.
"Pasar menganggap bahwa Bank BTN akan sengsara dan harus mendapatkan suntikan modal hingga sampai turun di level Rp 2.300,"
Namun ternyata penurunan hanya berlangsung selama seminggu-dua minggu dan naik kembali ke level Rp3.300 karena saat itu BTN sudah tidak FLPP dan masuk ke skema selisih suku bunga (SSB).
Meski awalnya dikhawatirkan investor, tetapi begitu ada berita Bank Indonesia mau turunkan suku bunga, pasar melihat dengan bank fokus ke SSB akan dorong profitabilitas bank karena margin akan lebih tiggi. Hal ini membuat harga saham naik lagi sampai Rp 3.300.
Kemudian di akhir Oktober terlihat saham Bank BTN kembali turun karena investor melakukan ambil untung, hingga saham sempat menyentuh harga Rp 2.700.
"Intinya bagaimana melihat perkembangan harga saham dilihat dari kinerja perusahaannya. Bagaimana Bank BTN fokus di perumahan yang menjadi bagian dari program infrastruktur pemerintah yang akan terus berlangsung. Saya melihat harga saham masih bisa naik. Ternyata berhasil menembus harga Rp 3.550 per 7 Desember. Kami perkirakan bertahan di level Rp3.500 sampai akhir tahun," tukas Winang.
IHSG Kembali Tembus Rekor
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat kembali menembus rekor tertinggi di level 6.221,01 poin. Selama sepekan,
IHSG telah menguat 1,66 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level 6.119,41 poin.
"Kenaikan IHSG juga diikuti dengan peningkatan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga meraih level tertingginya sepanjang masa di Rp6.889,48 triliun. Jumlah tersebut mengalami penguatan 1,59 persen dari Rp6.781,42 triliun pada akhir pekan Jumat (22/12)," ujar Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono, melalui keterangan resmi yang diterima.
Investor asing mencatatkan beli bersih pada perdagangan pekan ini dengan nilai Rp528 miliar. Meski demikian, sepanjang tahun ini investor asing mencatatkan jual bersih Rp39,84 triliun.
Sepekan menjelang akhir tahun, terdapat tiga pencatatan perdana (IPO) di BEI, yaitu PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) yang mencatatkan sahamnya di BEI dan menjadi Perusahaan Tercatat yang ke-34 di tahun 2017 atau ke-564 di BEI.
Kemudian PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) yang mencatatkan saham perdananya dan menjadi Perusahaan Tercatat yang ke-35 di tahun 2017 atau ke-565 di BEI.
Perusahaan Tercatat ketiga adalah PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) yang mencatatkan saham perdananya pada Jum'at (22/12). Jasa Armada Indonesia menjadi Perusahaan Tercatat yang ke-36 di 2017 atau yang ke-566 di BEI.
Satu obligasi korporasi kembali dicatatkan di BEI pada pekan ini yakni Obligasi Berkelanjutan I Mayora Indah Tahap II Tahun 2017 yang mulai dicatatkan di BEI dengan nilai nominal sebesar Rp550 miliar pada Jumat (22/12).
Dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 349 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 387,30 triliun dan US $47,5 juta yang diterbitkan oleh 114 Emiten. Sebanyak 91 seri Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI dengan nilai nominal Rp 2.099,77 triliun dan US $200 juta, serta 10 Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 8,35 triliun. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved