Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
LAJU pertumbuhan ekonomi yang cenderung lambat berimbas ke sejumlah sektor industri, termasuk otomotif.
Pertumbuhan industri di sektor itu, terutama mobil, diprediksi stagnan pada tahun depan.
"Karena situasi ekonomi masih begini saja, tahun depan (penjualan) tidak akan signifikan. Flat (datar) lah, hampir sama dengan tahun ini," ujar Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono saat ditemui dalam forum Diskusi Kelompok Terarah yang diadakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, kemarin.
Dia mengungkapkan, hingga Oktober 2017, penjualan TM MIN mencapai 1,2 juta unit atau 60% dari kapasitas produksi 2 juta unit per tahun.
Pada akhir tahun ini Warih memprediksi jumlahnya bisa mencapai 1,4 juta unit.
Menurut Warih, jika dibandingkan dengan tahun lalu, angka penjualan yang dicapai tahun ini cenderung stagnan. Begitu pula dengan tahun depan.
"Tahun depan levelnya masih segitu," tukasnya.
Meski demikian, Warih ber-upaya bakal mencari pasar ekspor baru guna mendongkrak penjualan.
Pada tahun depan mereka akan menyasar Laos dan Afrika Utara.
"Tapi mereka belum akan mengubah volume karena penjualan ke pasar baru itu belum akan signifikan. Misalnya, 1.000 unit per tahun, itu belum banyak," imbuhnya.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Johny Darmawan menilai stagnansi ekonomi global dan nasional masih akan membayangi industri otomotif pada 2018.
Selain itu, ketatnya per-aturan dan pengawasan pemerintah saat ini membuat industri otomotif tidak bisa berharap banyak dari ajang pilkada pada tahun depan.
Dia memprediksi penjualan mobil pada akhir tahun ini dan 2018 akan stagnan sekitar 1 juta unit.
"Biasanya faktor pemilu menjadi pemicu penjualan mobil, tapi sekarang belum tentu karena peraturan lebih ketat dan keuangan perusahaan banyak yang sedang tidak baik.
Menurut saya, otomotif akan stagnan sekitar 1 juta unit, tapi tidak mungkin di bawah itu karena kita sudah punya pasar," paparnya.
Sepeda motor
Sebaliknya, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala cenderung optimistis pada pertumbuhan penjualan pada tahun depan.
Meski hingga Oktober 2017 penjualan motor baru mencapai 4,9 juta unit atau stagnan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dia memprediksi angkanya bisa naik mencapai 5,9 juta unit pada akhir tahun.
Sigit berharap kenaikan harga komoditas, terutama karet dan minyak sawit mentah, bisa berdampak positif pada penjualan motor hingga tahun depan.
"Sumatra dan Kalimantan sudah menunjukkan perkembangan positif."
Dia mengungkapkan tantangan bagi industri otomotif masih berkisar pada ketersediaan bahan baku, khususnya baja.
Dari 60% baja yang dibutuhkan, kata Sigit, 59% merupakan impor.
Menurutnya, jika bahan baku bisa dipasok dari dalam negeri, industri akan lebih efisien karena akan ada penurunan biaya logistik. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved