Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pesta Politik 2018 Beri Sentimen Positif IHSG

Fetry Wuryasti
24/11/2017 13:00
Pesta Politik 2018 Beri Sentimen Positif IHSG
(ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

KONDISI pesta politik Indonesia pada 2018 dinilai dapat memberikan sentimen positif pada laju indeks harga saham gabungan (IHSG), terutama sektor konsumsi.

Diperkirakan, IHSG pada 2018 berada di kisaran 6.600-6.700 atau naik 10% dari tahun ini.

"Sektor yang memiliki prospek bagus ada di telekomunikasi, konsumsi, infrastruktur, dan perbankan mungkin masih ada. Namun, yang paling likuid ada di konsumsi, ini terkait pilkada," ujar Direktur dan Head of Equity BNP Paribas Aliyahdin Saugi pada paparan Outlook Economy 2018, di Jakarta, kemarin.

Aliyahdin menyampaikan, pilkada yang mengikutsertakan 171 daerah akan meningkatkan likuiditas dan biasanya berdampak langsung terhadap konsumsi masyarakat.

"Masyarakat jadi punya daya beli yang meningkat sehingga mereka bisa belanja lagi. Dampak lebih besar, dari jejak historis, momen pilkada menyumbang 0,1%-0,2% atas GDP. Mungkin dampaknya pada pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2%-5,3%," terang dia.

Pada sektor telekomunikasi, meski kompetisi meningkat dan sedikit ketat terkait tarif data, prospeknya masih bagus sebab telekomunikasi kini jadi bahan pokok masyarakat.

"Aturan soal registrasi ulang justru jadi daftar positif, terkait dengan batasan bagi pelanggan untuk berpindah-pindah operator hingga tiga kali. Persaingan bisa meredam pertumbuhan telekomunikasi karena harga yang ditawarkan bisa terus turun," ujarnya.

Sementara itu, sektor konstruksi berhubungan dengan proyek pemerintah di bidang infrastruktur.

Meski begitu, perlu dilihat kemampuan perusahaan dalam membiayai ekspansi mereka.

"Jadi, harus dilihat balance sheet mereka. Memang kategori yang kami perhatikan yakni apakah mampu secara arus kas dan balance sheet," tutur Aliyahdin.

Di sisi lain, harga komoditas, terutama batu bara, sudah naik signifikan tahun ini dan kemungkinan sulit naik lagi, begitu pula sahamnya.

Rupiah menguat

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ditutup melemah 6,54 poin atau 0,10% menjadi 6.063,24, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 0,32 poin (0,03%) menjadi 1.015,90.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menyampaikan melemahnya saham-saham sektor pertambangan menjadi salah satu faktor yang menahan laju IHSG melanjutkan kenaikannya.

"Pelemahan mayoritas harga komoditas tambang menjadi penekan pergerakan IHSG setelah sempat menguat pada awal sesi perdagangan," ungkap Lanjar seperti dikutip dari Antara, kemarin.

Selain itu, pergerakan negatif bursa saham eksternal turut memengaruhi pergerakan IHSG. Lanjar berharap sentimen positif data PMI Manufaktur dan Jasa di Eropa mampu menahan tekanan aksi jual di kawasan Asia.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank kemarin sore bergerak menguat 23 poin menjadi Rp13.500 daripada sebelumnya pada posisi Rp13.523 per US$.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra menyampaikan dolar AS melemah dari sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah, setelah hasil notulen pertemuan Federal Reserve pada awal November lalu yang menunjukkan masih adanya kekhawatiran inflasi rendah.

"Pejabat The Fed masih ragu inflasi akan mencapai target 2% di tahun depan. Kekhawatiran inflasi rendah dapat menjadi hambatan pengetatan moneter lebih lanjut." (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya