Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pertumbuhan Kredit di Batas Bawah

Fetry Wuryasti
17/11/2017 12:45
Pertumbuhan Kredit di Batas Bawah
(MI/PANCA SYURKANI)

BANK Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2017 akan sebesar 8% atau di rentang bawah target bank sentral yang sebesar 8% sampai 10%.

Gubernur BI Agus Martowardojo dalam jumpa pers triwulanan di Jakarta, kemarin, mengatakan bank sentral menurunkan perkiraan pertumbuhan kredit dari perkiraan semula karena hingga November 2017 permintaan kredit masih lemah dan sikap bank yang masih khawatir dengan potensi pembengkakan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

"Kredit tumbuh lebih rendah dari perkiraan semula yaitu menjadi sekitar 8%," ujarnya.

Permintaan kredit, menurut Agus, masih lemah karena nasabah, terutama nasabah kor porasi, masih menyelesaikan konsolidasi sehingga berhati-hati dalam mengajukan pembiayaan ke bank.

"Korporasi mau meyakini bahwa neraca mereka sudah sehat, rugi laba sudah lebih sehat, dan sekarang ini mereka belum ajukan permintaan," ujarnya.

Suplai kredit dari bank juga masih tersendat karena perbankan itu masih 'waswas' dengan potensi peningkatan NPL.

NPL memang membaik ke level 2,9% jika merujuk pada data September 2017.

Namun, perbankan tetap harus berhati-hati karena beberapa sektor kredit belum membaik, misalnya pertambangan.

"Kami lihat faktor permintaan dan penawaran berdampak ke pertumbuhan kredit yang masih lemah," ujarnya.

Hingga September 2017 ini, bank sentral memandang stasibilitas perbankan dan umum-nya sistem keuangan tetap terjaga, dengan indikasi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebsar 23% dan rasio likuiditas (AL/DPK) pada level 22,6% di September 2017.

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) untuk keseluruhan 2017 diperkirakan tumbuh sekitar 10%.

BI juga memutuskan untuk menetapkan rasio bantalan permodalan bank, countercyclical capital buffer (CCB), sebesar 0% atau tidak berubah.

Hal itu, kata Agus, untuk mendorong bank dalam meningkatkan peyaluran kredit.

Bunga acuan tetap

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin diputuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate sebesar 4,25%.

Suku bunga penyimpanan dana perbankan di BI (deposit facility) juga ditetapkan 3,5% dan suku bunga penyediaan likuiditas ke perbankan dari BI (lending facility) sebesar 5%.

BI memandang kebijakan yang diambil mereka tetap mendorong laju pertumbuhan ekonomi supaya menjadi lebih baik.

Di samping itu, bank sentral tetap memperhatikan dinamika global dan domestik.

Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan untuk mendorong laju pertumbuhan telah diprediksi pelaku pasar.

Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan ditutup menguat sebesar 65,59 poin ke level 6.037 ,9.

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya di Jakarta mengatakan optimisme investor terhadap ekonomi nasional masih menjadi salah satu faktor yang menjaga IHSG kembali bergerak di atas level 6.000 poin.

Harapan yang positif itu menjadi peluang bagi IHSG untuk kembali melanjutkan kenaikan hingga menembus rekor terbarunya.

Sementara itu, investor asing kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp420,67 miliar. (Ant/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya