Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai impor Indonesia pada Oktober 2017 naik 11,04% menjadi US$14,19 miliar dari bulan sebelumnya sebesar US$12,78 miliar. Bila dibandingkan dengan Oktober tahun lalu, nilai impor tersebut bahkan meningkat 23,33%.
Kepala BPS Suhariyanto menyebut kenaikan impor pada Oktober 2017 terjadi akibat kenaikan nilai impor migas 13,96% menjadi US$2,2 miliar dan nonmigas 10,52% menjadi US$11,9 miliar.
"Kenaikan impor cukup tinggi karena didukung oleh impor migas dan nonmigas. Pada November-Desember juga biasanya agak meningkat, polanya sejalan dengan ekspor," papar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/11).
Peningkatan impor nonmigas terbesar pada Oktober 2017 bila dibandingkan dengan September 2017 disumbang oleh golongan besi dan baja sebesar US$182,9 juta atau 28,68%. Diikuti oleh golongan mesin dan pesawat mekanik yang nilai impornya naik US$160 juta atau 8,88%, dan bahan kimia organik naik US$96,6 atau 21,68%.
Sementara itu, penurunan impor terbesar ialah golongan bahan bakar mineral sebesar US$57 juta atau 52,10%, ampas/sisa industri makanan yang turun US$56,5 juta atau 21,75%, dan kakao yang turun hingga US$33,7 juta atau 40,12% dari September 2017.
Menurut golongan penggunan barang, Suhariyanto mengatakan impor bahan baku atau penolong naik 12,13% menjadi US$10,77 miliar pada Oktober 2017 dari bulan sebelumnya. Sedangkan impor barang konsumsi pada Oktober 2017 tercatat US$1,25 miliar atau naik 11,68%, dan impor barang modal naik 5,6% menjadi US$2,16 miliar.
Menurut Suhariyanto, kenaikan impor bahan baku tersebut untuk kebutuhan industri dalam negeri. Menjelang Natal dan Tahun Baru biasanya catatan impor cenderung naik.
"Biasanya industri sudah mengantisipasi kenaikan permintaan makanan. Otomatis kalau begitu, yang akan naik bahan baku untuk kebutuhan konsumsi di Desember. Jadi, tidak harus impor konsumsinya yang akan naik," tukasnya.
Adanya kebutuhan untuk akhir tahun juga yang membuat naiknya impor barang konsumsi. Impor jeruk Mandarin dari Tiongkok tercatat naik drastis hingga 147,5% pada Oktober 2017 dari bulan sebelumnya atau menjadi US$9,9 juta.
Selain itu, impor creamy butter atau mentega dari Selandia Baru pada Oktober 2017 juga naik 200% menjadi US$17,4 juta dari September 2017.
"Kami berharap ekspor dan impor naik dua-duanya supaya tetap surplus. Biasanya sih kalau dari tren naik semua," imbuhnya. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved