Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kondisi Global Pacu Pertumbuhan

Erandhi Hutomo Saputra
07/11/2017 11:18
Kondisi Global Pacu Pertumbuhan
()

BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 tumbuh sebesar 5,06% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Angka itu juga lebih tinggi daripada kuartal I dan II 2017 yang sebesar 5,01%.

Meskipun demikian, angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang sebesar 5,1%-5,2% dan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani sebesar 5,2%.

Dalam paparannya di Jakarta, kemarin, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan pertumbuhan itu terjadi karena beberapa peristiwa, di antaranya harga komoditas migas dan nonmigas di pasar internasional yang melonjak, seperti gandum, kopi, teh, kelapa sawit, serta beberapa komoditas tambang seperti batu bara, bijih besi, tembaga, dan aluminium.

Selain itu, kondisi ekonomi global menunjukkan adanya kenaikan terutama pada mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Singapura.

Ekonomi Tiongkok menguat dari 6,7% di kuartal III 2016 menjadi 6,8% di kuartal III 2017. Ekonomi AS juga menguat dari 1,5% di kuartal III 2016 menjadi 2,3% di kuartal III 2017.

Kondisi itu, kata Ketjuk--demikian Suhariyanto kerap disapa, ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Tiongkok share ekspornya ke Indonesia 13,79%, AS share-nya 11,28%, dan Singapura 6,08%," ucapnya.

Lebih jauh, dia mengatakan tingkat inflasi di kuartal III 2017 juga terkendali.

Bahkan, bahan makanan mengalami deflasi.

Hingga akhir September, inflasi nasional di angka 3,72% (yoy).

Realisasi belanja pemerintah di kuartal III juga mengalami perbaikan yang mencapai 22,56%.

Kenaikan tersebut karena adanya kenaikan pada realisasi belanja pegawai, belanja barang, bantuan sosial, dan belanja modal.

Nilai ekspor juga membaik, naik 24,01% atau mencapai US$43,38 miliar. Impor juga naik 22,86% (yoy) atau US$40,17 miliar.

"Realisasi penanaman modal di BKPM pada kuartal III 2017 (yoy) juga meningkat 13,4% atau mencapai Rp176,6 triliun," pungkasnya.

Kinerja ekspor
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, secara realistis angka pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai tahun ini hanya 5,1%.

"Kalau 5,2% secara keseluruhan tahun 2017 memang berat. Dengan perkembangan tersebut, realistisnya pertumbuhan (ekonomi) hanya 5,1% karena tinggal dua bulan lagi."

Untuk mencapai target 5,1% itu, lanjut Iskandar, salah satu cara yang dilakukan ialah dengan proyek-proyek padat karya yang memanfaatkan dana desa.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Roeslani menyatakan hingga akhir tahun, pertumbuhan ekonomi nasional masih mampu bergerak hingga di atas 5,1%.

"Cukup menantang memang, tetapi menurut saya pertumbuhan 5,1% masih realisitis," ujarnya.

Rosan mengatakan ada beberapa hal yang masih bisa membantu mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada akhir periode 2017 ini, di antaranya dengan kinerja ekspor karena harga komoditas semakin baik.

"Kontrak-kontrak baru juga jatuhnya di kuarter ini, jadi semestinya bisa lebih baik," tuturnya. (Cah/Try/E-2)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya