Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Realisasi Cetak Sawah Meningkat 400%

07/11/2017 10:43
Realisasi Cetak Sawah Meningkat 400%
(ANTARA/Iggoy el Fitra)

MENTERI Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan realisasi fisik cetak sawah pada 2016 sebesar 129.076 hektare (ha), atau naik 400% jika dibandingkan dengan realisasi fisik cetak sawah pada 2014.

Mentan menjelaskan kegiatan cetak sawah menunjukkan kenaikan tertinggi setelah bekerja sama dengan TNI-AD sejak 2015.

Sebelumnya, realisasi cetak sawah hanya seluas 24 ribu sampai 26 ribu ha per tahun.

"Tahun 2015-2016 naik cetak sawah 400%. Itu kenaikan tertinggi dalam sejarah. Ini luar biasa karena sinergi bersama," kata Amran pada jumpa pers di Kantor Kementan, Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data evaluasi dari Kementan, cetak sawah dimulai September 2015 dengan realisasi fisik 20.070 ha, atau 87,26% dari target.

Seluruh hasil cetak sudah dimanfaatkan petani.

Sementara itu, realisasi cetak sawah 2016 sebesar 129.076 ha, atau 97,67%.

Hasil evaluasi per 31 Oktober 2017 menunjukkan sawah seluas 126.437 ha sudah dimanfaatkan.

Amran menjelaskan kegiatan cetak sawah dengan sinergi TNI-AD telah diatur dalam UU 34 Tahun 2004 tentang TNI dan Instruksi Presiden (Inpres) No 5 Tahun 2011 tentang pengamanan produksi beras nasional menghadapi kondisi iklim ekstrem.

Menurut dia, kerja sama dengan TNI-AD menjadi penting mengingat pada 2015 Indonesia dilanda fenomena cuaca El Nino dan La Nina pada 2016.

Cetak sawah dikembangkan dengan pola community development yang menekankan partisipasi dari petani.

Cetak sawah dilakukan pada tanah yang menganggur atau tidak digarap.

Namun, kegiatan yang tidak sanggup dikerjakan petani dilakukan Kementan bersama TNI dengan menggunakan alat berat.

Pada kesempatan sama, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono menjelaskan tidak ada hambatan yang berarti karena TNI memanfaatkan kemampuan personel dan peralatan bidang konstruksi.

Namun, proses cetak sawah membutuhkan waktu cukup lama untuk mengubah kondisi lahan perhutanan menjadi pertanian.

"Lahan yang kami kerjakan dalam 1 hektare kadang-kadang tidak produktif, seperti lahan rawa yang kalau dikerjakan membutuhkan waktu cukup lama," ungkap Mulyono. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya