Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Bursa Pantau Langkah Powell

Fetry Wuryasti
06/11/2017 10:02
Bursa Pantau Langkah Powell
(Sejumlah pialang memperhatikan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/11)---ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

PELAKU pasar masih akan memantau langkah kebijakan yang akan dilakukan Gubernur terpilih The Fed, Jerome Powell. Meski memiliki kerangka kebijakan menyerupai Gubernur The Fed saat ini Janet Yellen, bisa saja implementasi kebijakan yang dijalankan Powell berbeda.

Sejauh ini bursa di Amerika Serikat telah menunjukkan euforia terhadap terpilihnya Powell yang dianggap cukup global market friendly. Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama melihat terpilihnya Powel menjadi katalis bagi pergerakan bursa. Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan terpilih­nya Powell menjadi harapan tersendiri bagi Presiden AS Donald Trump. “Dampak kebijakan dari kenaikan Fed fund rate (di bawah kepemimpinan Yellen) belum dapat memberikan dampak signifikan, dengan kesimpulan tingkat pengangguran AS masih relatif tinggi,” jelas Lucky.

Namun, keduanya sepakat bahwa indeks akan menguat pada perdagangan pekan ini. Data ekonomi Indonesia lainnya seperti GDP, indeks keyakinan bisnis, indeks keyakinan konsumen, cadangan devisa, penjualan eceran, dan transaksi berjalan diyakini akan menjadikan sentimen positif terhadap penguatan IHSG pekan ini. “IHSG masih bisa menguat di kisaran 5.895-6.125,” tukas Nafan.

Window dressing
Lucky menilai indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki peluang untuk kembali mencatatkan rekor baru. “Di pasar saham, jelang akhir tahun biasanya muncul fenomena window dressing, harga saham cenderung bergerak menguat sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk mencatatkan rekornya,” ujar Lucky

Ia mengemukakan bahwa window dressing merupakan momentum bagi investor baik perorangan maupun lembaga untuk melakukan pembelian sehingga kinerja dana kelolaan akhir tahun terlihat lebih baik. “Pada periode itu, IHSG diproyeksikan dapat menyentuh level 6.250 poin,” katanya.

Kuatnya optimisme investor terhadap fundamental ekonomi nasional turut mendorong investor tetap melakukan akumulasi saham. Hal itu seiring dengan peringkat Indonesia yang berada di level layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional seperti Standard and Poor’s (S&P), Fitch Ratings, Moody’s Investors Service, dan Japan Credit Rating Agency (JCRA).

Dari eksternal, selain faktor Powell, harga minyak mentah dunia yang cenderung menguat juga cukup mendukung untuk mendorong IHSG ber­gerak dalam tren positif. Harga minyak mentah dunia yang meningkat dapat memenga­ruhi harga komoditas lain, seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO), batu bara, dan karet.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menambahkan, pada pekan depan, sentimen pasar salah satunya akan tertuju pada data produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga yang diekspektasikan naik menjadi 5,1% dari 5,01% di periode sebelumnya. “Sehingga diperkirakan IHSG akan kembali bergerak mencetak rekor tertinggi lagi meskipun secara technical cukup rentan koreksi jangka pendek,” katanya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada Jumat (3/11), IHSG BEI ditutup menguat 8,43 poin, atau 0,14%, menjadi 6.039,54, yang merupakan rekor tertinggi. (Ant/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya