Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Presiden Jusuf Kalla memberikan penggambaran menarik saat berbicara dalam acara Breakfast Meeting bertajuk Prospek Ekonomi Indonesia 2018 yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia di Hotel Aryaduta, Kamis (2/11)
Di tengah-tengah paparan, Kalla menyebut bahwa Indonesia agak sedikit inkonsisten dengan kebijakan untuk mengundang investor asing.
Di awal ketika membutuhkan modal, Indonesia meminta asing untuk berinvestasi.
Akan tetapi, kemudian meminta asing untuk 'pulang' dengan cara divestasi atau nasionalisasi ketika asing sudah mendapatkan untung.
Hal itu terlihat dalam kasus divestasi Freeport Indonesia.
"Kita undang asing, begitu dia (asing) untung, mau suruh pulang. Freeport yang kerja lebih dari 50 tahun, kita ingin percepat divestasinya, padahal lebih baik kita buat investasi di greenfield, masih banyak fasilitas dari pertambangan kita yang belum selesai," ujar Kalla di hadapan para pemimpin redaksi dan dunia usaha.
Kalla pun meminta media menjaga agar semangat divestasi dan nasionalisasi tersebut tidak terlalu berlebihan sehingga bisa membuat Indonesia bernasib seperti Venezuela.
Seperti diketahui, Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chavez mulai melakukan nasionalisasi besar-besaran sejak 2007 terutama terhadap aset asing yang mengelola sumber daya alam Venezuela seperti minyak dan emas.
Beberapa perusahaan raksasa yang dinasionalisasi tidak tanggung-tanggung.
Ada nama Exxon Mobil, Conoco Philips, Chevron, perusahaan makanan Amerika Serikat Cargill Inc, perusahaan pupuk nitrogen Fertinitro, perusahaan semen Swiss Holcim, Cemex Meksiko, dan perusahaan tambang emas Rusoro Mining milik Rusia sudah tunduk di tangan Chavez.
Bernasib tragis
Akan tetapi, semangat nasionalisasi tersebut berujung pada krisis yang saat ini dialami Venezuela di bawah Presiden Nicolas Maduro. Investor sudah kadung tidak percaya dengan Venezuela.
Bahkan, hasil riset yang dilakukan Simon Bolar University, 90% penduduk Venezuela sudah tak lagi mampu membeli cukup pangan.
Negara yang dulunya dikenal kaya akan minyaknya tersebut kini meratapi nasib yang tragis.
"Venezuela itu negara yang paling kaya cadangan minyaknya, kalah Saudi, tapi waktu Chavez memerintah semua digunakan ke politik. Semua dinasionalisasi, investor mengundurkan diri sehingga produktivitas menurun, dikorup lagi," cerita Kalla.
"Beli tisu saja harus antre dari jam lima pagi untuk dapat dua tisu. Apalagi beli obat dan roti. Negara yang begitu kaya dulu menjadi miskin karena kehilangan kepercayaan investor, memaksakan mengambil alih," ujarnya menambahkan.
Ia berharap masyarakat Indonesia belajar dari pengalaman Venezuela. Dikaitkan dengan kasus Freeport, Kalla berpendapat jika memiliki modal yang cukup, bisa mengembangkan bisnis di smelter, tidak perlu memaksakan untuk nasionalisasi.
"Ini kritikan untuk saya juga karena saya di pemerintahan. Untuk media berikan gambaran bahwa banyak pengalaman negara lain menyebabkan persoalan. Akibat terburu-buru membuat kebijakan, membuat orang lain tidak percaya. Kalau sudah kehilangan kepercayaan, sulit menarik investasi," kata Kalla serius.
Streotip yang salah
Tidak berhenti di situ, dalam sesi diskusi Kalla kembali membahas Venezuela.
Kali ini terkait dengan stereotip wanita Venezuela yang cantik-cantik.
Beberapa kali perempuan asal Venezuela menjuarai kontes kecantikan Miss Universe.
Namun, saat bertandang ke sana pada 2016 untuk menghadiri KTT Gerakan Nonblok, Kalla mengaku kecewa.
"Susah cari orang cantik, begitu tiba di airport tidak ada, sampai di hotel tidak ada juga. Saya tanya sama dubes, 'mana orang cantik di sini?' (Dubes jawab) 'ya memang begini-begini saja Pak'. Ternyata untuk Miss Universe dia disekolahkan khusus. Jadi kalau ada yang cantik direkrut, disekolahkan supaya kalau tanding menang," seloroh Kalla disambut tawa seisi ruangan.
Justru, wanita yang cantik-cantik menurut Kalla berada di Asia Tengah.
Dari cerita tersebut, Kalla menarik kesimpulan bahwa masyarakat jangan terlalu cepat menarik kesimpulan dan kemudian membuat stereotip.
Langkah Venezuela untuk menasionali-sasi yang dulu dinilai sebagai langkah yang baik ternyata menimbulkan persoalan, pun wanita-wanita cantik juga bukan terdapat di Venezuela.
"Ini hanya intermeso, untuk melihat bahwa Venezuela (dulu dikenal sebagai) negara kaya tapi miskin, negara (yang dikenal wanitanya) cantik tapi tidak," tutupnya. (Erandhi Hutomo Putra/E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved