Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Kreativitas, inovasi, dan digital. Tiga mantra itu harus digabung generasi muda yang ingin maju di zaman sekarang. Untuk itu, pemerintah dan swasta perlu mendorong agar atmosfer pendukung terbentuk.
Salah satu caranya ialah membuat ajang kompetisi. Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, industri kreatif saat ini sangat membutuhkan ide baru yang notabene banyak dilahirkan dari ajang kompetisi. Pemerintah siap memfasilitasi, khususnya dalam pengembangan kreativitas berbasis digital.
“Zaman terus berkembang, tapi kita enggak perlu khawatir karena kekuatan diversity yang kita miliki. Bangsa ini akan mampu bersaing meningkatkan ekonomi kreatif,” ujarnya saat jumpa pers Line Creativate di Jakarta, Jumat (27/10).
Melalui ajang kompetisi Line Creativate, menurut Triawan, talenta-talenta generasi muda yang sarat ide dan kreativitas dapat terjaring. Bahkan, tidak jarang di antara hasil karya para peserta menggambarkan kondisi sosial serta kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebut saja pemenang lomba cipta karya stiker (Line Sticker), Septian Indah Rosiana. Ia menarik perhatian para juri dengan hasil karya berjudul Boteng alias Bocah Tengil. Perempuan 28 tahun itu mengaku terinspirasi oleh realitas bocah di lingkungan sekitar.
Managing Director Line Indonesia Dale Kim menegaskan, pihaknya akan selalu berupaya memberikan wadah kepada para kreator di Tanah Air dalam mengembangkan kreativitas. “Hingga kini kami sudah mewadahi hampir 2 juta pelaku kreatif di Indonesia,” pungkasnya.
Impor
Sayangnya, kreativitas itu belum mewabah sehingga masih sedikit inovasi yang diproduksi. Ini terlihat dari produk impor yang mendominasi pemesanan secara daring.
“Masyarakat yang kini suka belanja daring membeli sekitar 60% produk dari luar negeri. Seharusnya bisnis digital dapat menumbuhkan para pembuat produk dari Tanah Air,” ungkap pengajar bidang Inovasi dan Operations & Decisions Advisor di Universitas Prasetiya Mulya Ade Febransyah di Jakarta, belum lama ini.
Itu disebabkan orang Indonesia beranggapan kualitas produk lokal masih kalah dengan luar negeri. Karena itu, pengusaha perlu terus didorong mengembangkan inovasi sebagai kunci memenangi persaingan.
Inovasi mau tidak mau lahir lewat penelitian. Tapi, “Dengan rasio biaya penelitian terhadap penjualan per tahun yang masih jauh di bawah 1%, sulit diharapkan bagi pelaku bisnis di sini untuk benar-benar melakukan inovasi yang sesungguhnya,” tandas Ade.
Meskipun begitu, terdapat sejumlah inovasi anak bangsa yang cukup menarik. Salah satunya, Regopantes. Perusahaan e-commerce itu lahir untuk memenuhi kebutuhan pokok berupa pangan sekaligus menyejahterakan petani dengan harga pantas.
Solusi perdagangan daring itu memungkinkan petani menjual produk kepada konsumen tanpa lewat tengkulak yang selama ini membeli dengan harga murah.
“Konsumen memperoleh produk pertanian yang segar dengan harga lebih rendah dari pasar modern. Produk kami kirim ke Jakarta. Sampai sekarang sudah 4.200 konsumen yang mengakses Regopantes,” ucap Wim Prihanto, COO 8Villages Indonesia dan Founder Regopantes.
Saat ini Wim fokus pada 800 petani yang berada di Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebagai pemasok.
Namun, baru sekitar 200 petani yang melakukan pengunggahan dengan 24 produk lewat e-commerce itu karena masih banyak belum melek digital. Ia menargetkan pada Desember ini petani se-Jawa Tengah dapat pula memanfaatkan Regopantes. (S-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved