Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

E-commerce di Indonesia Jadi Incaran

Jessica Sihite
25/10/2017 09:11
E-commerce di Indonesia Jadi Incaran
(THINKSTOCK)

PERKEMBANGAN teknologi digital mengubah pola konsumsi masyarakat. Mereka yang dulunya berbelanja di toko ritel, kini beralih ke online, termasuk di Indonesia. Menyadari perkembangan itu, fast fashion retail asal Jepang, Miniso, merambah pasar e-commerce di Tanah Air.

Meski baru masuk pasar Indonesia pada Februari 2017, bagi kalangan muda di kota besar, Miniso, perusahaan yang didirikan desainer Jepang Miyake Junya dan Ye Guofu asal Tiongkok, lumayan familier. Mereka memiliki lebih dari 50 gerai di Indonesia yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Palembang, dan Bali.

Namun, hal itu dirasa belum cukup untuk pentrasi pasar. Menurut Vice General Manager Miniso Indonesia Natalia K Elda, perkembangan bisnis di Indonesia terbilang pesat. Jumlah pengunjung pun diklaim kian meningkat seiring bertambahnya jumlah toko. “Tak sedikit konsumen yang menanyakan dimana mereka bisa mendapatkan produk Miniso. Melalui e-commerce, kami mau menjangkau konsumen yang daerahnya belum ada toko Miniso,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, Miniso mengembangkan bisnis lewat jalur ini. Apalagi, tren berbelanja daring (online) kian marak. Menurut Natalia, konsumennya saat ini sudah bisa berbelanja produk-produk Miniso di beberapa marketplace, yakni Lazada, JD.id, Shopee, Tokopedia, dan Blibi.com. Perusahaan asal Jepang tersebut menjual produk perlengkapan digital, rumah tangga, alat tulis kantor, dan perlengkapan lainnya. “Dengan masuk di e-commerce, kami harapkan bisa memperkuat brand image Miniso,” imbuh Natalia.

Pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia memang menggiurkan. Penelitian yang dilakukan Temasek dan Google dan dipaparkan Agustus lalu menyatakan, pada 2015 ada 92 juta pengguna internet di Indonesia. Pada 2020 mendatang jumlahnya diprediksi meningkat menjadi 215 juta pengguna.

Dari penelitian bertajuk The Oportunity of Indonesia itu disebutkan, pada 2025 mendatang 119 juta orang diprediksi menjadi pembeli online di Indonesia dengan nilai pasar mencapai US$81 miliar. Tak mengherankan jika perusahaan raksasa Tiongkok, Alibaba, berani menyuntik modal triliunan rupiah kepada Tokopedia.

Siapkan kebijakan
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah terus memonitor perubahan pola konsumsi masyarakat seiring perkembangan ekonomi digital ini. Terlebih ada beberapa usaha ritel yang dikabarkan gulung tikar. “Kami juga akan lihat pada sektor-sektor lain, apakah mereka menghadapi tekanan atau perubahan karena adanya konsep digitalisasi ini. Kami terus memformulasi policy sambil menyimaknya. Namun, kalau dilihat dari sisi perpajakan, sampai September untuk ritel PPN kita meningkat, jadi mungkin ada perubahan dalam hal ini,” ujarnya, kemarin.

Sebelumnya, perusahaan ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang membawahkan Lotus mengumumkan akan menutup sekitar 100 gerai pada tahun ini, termasuk tiga gerai Lotus yang tersisa.

Sementara itu, sebuah lembaga riset bidang pengetahuan dan wawasan konsumen, Kantar Worldpanel, mengumumkan tren fast moving consumer goods (FMCG) Indonesia masih menjanjikan. Laju pertumbuhan industri itu mencapai 8,3% pada tahun ini atau yang tertinggi di ASEAN. FMCG dan bahan makanan segar masih menjadi pengeluaran terbesar bagi rumah tangga di Indonesia. General Manager Kantar Worldpanel Indonesia Venu Madhav menilai Indonesia tetap menunjukkan prospek yang menjanjikan, terutama yang berkaitan dengan produk kesehatan dan pola hidup sehat. (Try/E-2)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya