Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Besarnya penetrasi internet berbasis gawai (mobile internet) yang mencapai sekitar 90% dari penggunaan internet di Indonesia menjadi salah satu faktor munculnya banyak aplikasi perdagangan elektronik (e-commerce).
Hal itu setidaknya tecermin dari studi terbaru Mastercard. Riset firma jasa finansial itu menunjukkan pertumbuhan pesat belanja daring melalui gawai (mobile shopping) di kawasan Asia Pasifik.
Indonesia bersama 5 negara Asia Tenggara lainnya, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, menjadi objek penelitian dari 14 negara pilihan Mastercard.
Di antara negara ASEAN, Indonesia berada di peringkat kedua setelah Thailand dalam penggunaan mobile shopping.
Tercatat adanya 58,5% responden berbelanja melalui gawai mereka. Pertumbuhan tahunan terbesar (year on year) dalam penggunaan mobile shopping terjadi di Malaysia dan Filipina yang juga tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Dari 58,5% pelaku mobile shopping di Indonesia, 43,5% di antaranya menyebutkan kehadiran beragam aplikasi e-commerce yang memudahkan belanja daring sebagai alasan utama melakukan mobile shopping. Sementara itu, 49,9% menyebutkan faktor fleksibilitas dan kenyamanan sebagai faktor pendorong belanja melalui gawai.
Pengamat ekonomi Josua Pardede mengamini, efisiensi yang ditawarkan aplikasi e-commerce yang kini semakin marak di Indonesia menjadi motor perkembangan mobile shopping.
Di sisi lain, hal itu menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga, tetapi perpindahan (shifting) sedang terjadi dari luring menjadi daring.
“Ya, beberapa faktor kemudahan memang ditemukan dalam belanja daring yang juga berkat perkembangan teknologi informasi dan sistem informasi yang pesat. Dari situ kita juga bisa lihat peningkatan transaksi melalui kartu kredit dan uang elektronik,” kata Josua kepada Media Indonesia, Sabtu (21/10).
Walakin, ekonom Bank Permata itu mengingatkan, masih banyak pengaduan masyarakat dalam praktik e-commerce seperti keamanan siber dan barang yang dikirim tidak sesuai dengan display.
Hal-hal itu tentunya perlu dicermati oleh pelaku e-commerce agar ke depan pelayanan yang diberikan bisa ditingkatkan.
Evolusi pembayaran
Penggunaan mobile shopping yang terus meningkat di kawasan Asia Pasifik juga ikut memacu pemakaian dengan lebih dari satu dari lima konsumen (22,3%) menggunakan metode tersebut.
Konsumen di kawasan Asia Pasifik juga telah melakukan pembayaran dengan kode QR dengan satu dari 10 konsumen menggunakannya.
Benjamin Gilbey, Senior Vice President Digital Payment and Labs Asia Pacific Mastercard, mengatakan konsumen pengguna aplikasi e-commerce memang menuntut adanya pengalaman pembayaran yang lebih mudah dan mulus dalam belanja daring.
“Hal ini memerlukan sebuah kolaborasi yang lebih besar antara sektor publik dan swasta serta para pelaku industri untuk memfasilitasi interoperabilitas di antara beragam pilihan pembayaran yang tersedia saat ini. Kemajuan yang tercapai seperti standardisasi pembayaran dengan kode QR di India dan Thailand sangat menggembirakan,” kata Gilbey.
Di Indonesia, Josua mengungkapkan, metode pembayaran tradisional seperti transfer antarbank dan pembayaran di tempat memang masih jadi pilihan dalam penggunaan e-commerce.
Namun, ia yakin ke depan metode pembayaran akan berevolusi dan penggunaan dompet digital serta kode QR akan meningkat.
Di sisi lain, Mario Gaw, CEO aplikasi mobile payment enabler Dimo, mengatakan keberadaan aplikasi pembayaran secara tidak langsung juga membuat masyarakat tidak perlu repot dengan uang tunai dan meminimalkan kejahatan seperti pencopetan.
Ia berharap, regulator dapat menunjukkan dukungan lebih baik dengan mempermudah keberadaan start-up fintech skala kecil, dengan mempercepat proses perizinan dan persetujuan, serta memberi fleksibilitas dalam berinovasi. (Mtvn/S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved