Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
LAHAN sekitar 6 hektare itu semula hanyalah semak belukar sisa tanaman gambut yang terbakar. Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi sekitar lima tahun lalu membuat lahan itu terbengkalai.
Daripada lahan dibiarkan telantar, masyarakat Sei Pakning, Bengkalis, Riau, yang menghuni sekitar lahan itu bertanam nanas. Hal itu mereka kerjakan bersama PT Pertamina Refinery Unit (RU) II Production Sei Panking. Kini, lahan yang semula tak berguna itu mampu memberikan nilai ekonomi tinggi.
“Sejak program pengembangan kawasan pertanian nanas terintegrasi ini dilakukan, tahun ini tercatat telah terjadi peningkatan lahan pertanian nanas seluas 4,5% dengan potensi pendapatan kelompok mencapai Rp20 juta/bulan dari penjualan hasil pertanian dan produk olahan nanas,” papar General Manager PT Pertamina RU II, Otto Gerentaka, di Bengkalis, Riau, kemarin.
Menurutnya, Pertamina RU II bersama LPPM Universitas Sebelas Maret melakukan pendampingan bagi kelompok tani mengalihfungsikan lahan semak belukar yang merupakan bekas area kebakaran lahan menjadi pertanian nanas gambut. Mereka juga mendiversifikasi produk olahan komoditas tersebut, seperti manisan dan keripik nanas.
“Hingga saat ini, upaya budi daya tanaman produktif cukup menjanjikan dan tahun yang akan datang diproyeksikan luasnya menjadi 15 hektare. Pertamina berharap muncul sentra pertanian nanas gambut yang dapat menjadi ciri khas di wilayah Sungai Pakning,” kata Otto.
Mereka, masyarakat Sei Pakning, termasuk Kelompok Tani Tunas Makmur, berhasil mengolah lahan kritis menjadi bernilai produktif. Tak cuma nanas, warga mengelola perkebunan cabai dan pisang di daerah Batang Duku seluas 2 hektare. “Kami bersyukur bencana yang dulu menyimpan duka kini menjadi harapan kesejahteraan untuk masa depan Kampung Sei Pakning,” pungkasnya. (Cah/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved