Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
SEBAGAI bekas salah satu provinsi di Indonesia, ekonomi Timor Leste rupanya masih bergantung kepada Indonesia. Dalam berbagai kebutuhan, negara yang berpenduduk 1,2 juta itu masih menggantungkan impor dari beberapa negara. Salah satunya Indonesia yang merupakan penyuplai impor terbesar.
Di sisi pembangunan infrastruktur, misalnya, kontraktor pengerjaannya hampir 80% dikerjakan oleh BUMN Indonesia. Mulai dari pembangunan jalan raya, jembatan bahkan gedung kementerian negara tersebut dibangun oleh BUMN Indonesia.
Salah satunya gedung tertinggi dan bertingkat pertama di Dili dan Timor Leste, Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste, yang dikerjakan oleh PT PP (Persero) Tbk.
"Bisa dilihat BUMN Indonesia ini komplit di sini. Ada Hutama Karya, Waskita, Wijaya Karya, PT PP, Adhi Karya. Mereka membuat jalan raya, jembatan, perumahan, gedung sampai gedung bioskop," ujar Duta Besar RI untuk Timor Leste Sahat Sitorus sast menerima kunjungan tim PLN CSR di Kedutaan Besar Indonesia untuk Timor Leste di Dili, Selasa (19/9).
Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat Timor Leste juga masih tergantung dari produk-produk asal Indonesia. Mulai dari makanan pokok hingga alat transportasi mobil dan sepeda motor yang diimpor dari pabrikan otomotif yang ada di Indonesia. Begitu pun untuk kebutuhan energi bahan bakar, Timor Leste masih disuplai dari Pertamina.
Sahat menyebut, masyarakat Timor Leste tidak lepas dari impor barang-barang Indonesia tidak lepas dari keterikatan sejarah dan kedekatan budaya.
"Mereka menyebut kita saudara. Jadi salah jika Indonesia menjajah Timor Leste, selama bergabung dengan Indonesia, pemerintah pusat justru banyak melakukan pembangunan di sini. Berbeda kalau menjajah, mengeruknya dan tidak membangun apa-apa," kata Sahat.
Sumber daya manusia yang bekerja di kantor pemerintahan pun kebanyakan lulusan perguruan tinggi di Indonesia. "Rata-rata 90% pejabat pemerintah di sini lulusan Indonesia. Bahkan mereka sulit untuk bahasa Portugis karena mereka memilih perguruan tinggi di Indonesia seperti di Bali, Surabaya, Yogyakarta dan Bandung," tutup Sahat. (X-12)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved