Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Cegah Penipuan Regulasi Etika Soal Data Nasabah Antarbank Mendesak Dibuat

Fetry Wuryasti
26/8/2017 12:08
Cegah Penipuan Regulasi Etika Soal Data Nasabah Antarbank Mendesak Dibuat
(ANTARA/Didik Suhartono)

DATA nasabah seharusnya dirahasiakan dan dijaga oleh pihak perbankan. Namun, kenyataannya ada saja oknum yang memperjualbelikan data tersebut untuk penawaran produk keuangan.

Direktur Retail Banking Bank Mandiri Tardi mengakui adanya nasabah Bank Mandiri yang juga menjadi korban. “Nasabah Bank Mandiri juga menjadi korban. Maka agar nanti ke depannya tidak terjadi lagi, Kita susunlah suatu etika di antara Himbara dan Perbanas,” ujarnya di Lombok.

Mayoritas kebocoran data tersebut berasal dari transaksi saat belanja. Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan banyak nasabah yang belum mengetahui saat berbelanja dipertokoan menggunakan kartu dan mesin EDC, biasanya kasir akan menggesek kartu kembali di sistem komputer melalui keyboard mereka.

“Belanja di mall, di toko, kartu disweep dua kali saat bayar. Di mesin EDC, itu fine normal. Namun setelah itu kasir biasanya isi data melalui sweep di keyboard. Itu tidak boleh, jangan mau bila kartu di-sweep di mesin kasir itu, karena merekam data kartu. Jadi cukup di mesin EDC, yang langsung ke bank, agar terlindungi,” jelas Rohan.

Sebab, bisa saja data yang terekam pada sistem perusahaan pusat perbelanjaan disalahgunakan oleh oknum pegawai, dengan rekaman magnetik kartu untuk dibuat menjadi kartu kloningan.

Sering kali alasan perusahaan tersebut, kata Rohan, agar input data menjadi lebih cepat daripada harus mengetik nomor kartu. Sayangnya sistem di Indonesia masih terpisah antara perusahaan merchant dan perbankan untuk data pembeli saat transaksi.

“Kalau di luar negeri keyboard itu memang pengganti EDC. Alat itu sudah online ke bank, di sini belum. Jadi mesin itu teregister sekarang, sudah disediakan online bank di negara maju. Tapi kita masih berdiri sendiri, terlihat ada mesin EDC di samping kasir. Padahal kerja sama sudah kami lakukan. Itu tugas manajer lapangan dan jadi pengawasan baik oleh banknya maupun perusahaan switching VISA karena semua EDC, hub nya itu Visa. Maka perusahaan mentraining kasir kalau tindakan itu tidak boleh.”

Selain itu, dengan maraknya perbelanjaan dengan online, saat pembayaran, konsumen harus mendaftarkan nomor CVV atau nomor 3 digit di belakang kartu saat pembayaran. Hal tersebut juga riskan. Sebab belum ada otoritas yang mengatur keamanan transaksi di toko online.

“Kerja sama kami dengan merchant online pun sudah kami peringatkan apa yang boleh dan tidak boleh secara sistem belum seperti yang diharapkan,”

Orang awam, dia yakini pasti berpikir kebocoran data berasal dari perbankan. Padahal, sumbernya banyak, seperti pembacaan magnetik kartu saat di pusat perbelanjaan , saat berbelanja online, dan penggunaan wifi publik saat melakukan transaksi belanja online.

“Sebetulnya konsumen juga regulator sebaiknya mengedukasi lebih apa yang saya sampaikan. Karena pengetahuan ini masih awam padahal terjadi di kehidupan sehari-hari kita semua,” tukas Rohan.

Sebelumnya Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjaatmadja menekankan kerahasiaan data ini menjadi isu central dalam pertumbuhan e-commerce dan pertumbuhan kartu. Konsumen sebaiknya berhati-hati dalam mendaftarkan kartu untuk transaksi otomatis di banyak portal e-commerce,untuk memitigasi kebocoran data.

“Kita harus kerja sama dengan ekosistem, dengan merchant. Kami sosialisasikan bahwa semakin sedikit capturing data, semakin sedikit kemungkinan bocor,” ujar pria yang akrab disapa Tiko ini.

Kehati-hatian dari sisi konsumer menjadi penting. Sebab, sering kali terjadi ada oknum menyamar sebagai customer service suatu bank .

“Kami sangat strict memperlakukan data. Aplikasi kalau tidak diterima, datanya langsung dihancurkan. Hanya saja memang ada yang menyamar menjadi pegawai bank, mereka memalsukan bertindak seolah SPG dari bank,”

Perbankan akan bekerja sama dengan regulator untuk mencari sumber kebocoran dari mana saja. “Kami akan telusuri apakah lackage atau sumber kelemahannya dari back office atau front office,” tukas Tiko.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya