Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Juli 2017, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross 3% perbankan dan pembiayaan bermasalah (nonperforming finance/NPF) gross perusahaan pembiayaan mencapai 3,45%.
Angka NPL perbankan sedikit naik ketimbang bulan sebelumnya sebesar 2,96%. Sementara itu, rasio NPL netto tercatat sebesar 1,32% per Juli 2017, lebih rendah jika dibandingkan 1,35% pada bulan sebelumnya.
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan perbankan masih membutuhkan lagi 1,5 tahun ke depan untuk menyelesaikan permasalahan kredit macet tersebut.
"Saya pernah mengatakan, ini siklus yang panjang. NPL baru juga terus muncul, terutama di segmen menengah. Tetapi rasio kecukupan modal (CAR) bank sudah di atas 20% semua. Bank cukup kuat menahan NPL baru," katanya.
Memang akibatnya bank menjadi sangat berhati-hati untuk pertumbuhan kredit baru pada kebijakan risikonya. Konsolidasi perbankan sendiri sudah berjalan selama 2,5 tahun.
"Bayangan saya minimal mungkin 1,5 tahun lagi. Sampai akhir 2018 baru kita bisa melihat benar-benar habis," cetus Tiko, sapaan akrab Kartika.
Pencabutan relaksasi restrukturisasi oleh OJK juga akan berdampak ke NPL. Namun diyakini Tiko bila permodalan dan coverage tinggi artinya bank punya cukup dana cadangan untuk meng-cover NPL.
NPL tertinggi diakui Tiko tetap datang dari segmen komersial. NPL di kredit KPR masih terkendali tidak sampai 2%. Sementara itu sektor konstruksi agak berat karena dengan pelambatan penjualan banyak pembayaran diperpanjang khususnya kontraktor kelas menengah.
Paling berat, kata Tiko, komersial dari sektor baja, plastik, kontraktor terutama terkait migas dan batu bara yang NPL-nya bisa mencapai 7%.
Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) (persero) Tbk Sis Apik Wijayanto mengatakan akan melihat prospek bisnis nasabah yang mengalami kredit macet. Pilihan restrukturisasi diutamakan agar bisnis nasabah bisa hidup kembali.
"Ada kalanya yang tidak bisa direstrukturisasi, kami tawarkan penjualan agunan, dan likuidasi di bawah tangan. Ada beberapa yang kami berikan treatment sendiri. Kalau tidak bisa juga, kami ajak bicara nasabah bahwa ada investor lain yang akan masuk," jelasnya.
Di BRI, debitur yang menyumbang NPL paling besar antara lain pertambangan, terutama batu bara yang sedang mulai membaik. "Kemudian NPL juga muncul dari sisi sektor konstruksi, terutama dari perusahaan sizenya yang tidak besar," ujar Sis Apik. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved