Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Beda Logika soal Kisruh Beras Subsidi

Andhika Prasetyo
24/7/2017 17:32
Beda Logika soal Kisruh Beras Subsidi
(ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

PEMERINTAH dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berbeda pendapat menanggapi kisruh beras subsidi yang kini ramai diperbincangkan publik.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menganggap beras yang diproduksi petani dengan mengandalkan berbagai bantuan subsidi pemerintah atau subsidi input merupakan komoditas barang bersubsidi.

Berdasarkan penghitungan komponen-komponen yang digunakan sebelum akhirnya menjadi beras, Amran mengatakan ada beberapa bahan seperti pupuk, benih dan alat mesin pertanian yang memang merupakan bantuan subsidi.

"Jadi ada pembagi yang masuk ke dalam subsidi. Yang lahir dari subsidi input itu ada uang negara di dalamnya," ujar Amran saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (24/7).

Tidak sependapat, Wakil Ketua Komisi IV Viva Yoga Mauladi menilai komoditas beras, walaupun diproduksi dengan berbagai komponen yang disubsidi, tidak termasuk ke dalam kategori barang bersubsidi.

Jika memakai logika yang digunakan seperti dijelaskan menteri pertanian, Viva khawatir semua komoditas yang dihasilkan dari komponen-komponen subsidi juga menjadi dianggap barang bersubsidi.

"Kalau produk dari benih dan pupuk subsidi dikategorikan menjadi barang bersubsidi, bagaimana kopi yang dijual di gerai-gerai mal? Harganya bisa 10 kali lipat dibandingkan kopi biasa. Padahal bisa saja itu juga hasil dari benih dan pupuk subsidi," ujar Viva.

Ia pun meminta menteri pertanian lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan sesuatu dan menerapkan kebijakan. "Jangan sampai menimbulkan keresahan baru di masyarakat," ucapnya.

Di luar itu, ia mengaku mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian, bersama instansi-instansi lainnya yang telah mengungkap pelaku kecurangan dalam perdagangan beras. "Bagaimanapun langkah itu kami apresiasi, tetapi harus lebih hati-hati." (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya