Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Indo Beras Unggul (PT IBU) membantah bahwa pihaknya telah melakukan praktik pemalsuan kemasan dan kandungan beras. Anak usaha dari PT Tiga Pilar Sejahtera (PT TPS) itu menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan beras bersubsidi untuk kemudian dijual dalam kemasan produk beras premium.
"Pembelian beras umum atau gabah umum kami lakukan ialah hal yang umum dilakukan oleh PT lainnya. Jadi, sekali lagi saya tekankan kami tidak memakai beras bersubsidi untuk kebutuhan produksi. Kami membeli gabah yang ada dari petani dan penggiling lokal di kawasan pabrik kami," ujar juru bicara PT IBU Jo Tjong Seng (Asen), saat konferensi pers Sabtu (22/7).
Asen juga mengatakan bahwa mutu dalam kemasan beras telah sesuai deskripsi mutu yang ada dalam standar nasional.
"PT IBU memproduksi beras dalam kemasan sesuai dekripsi mutu ada di dalam standar nasional. Artinya, apa PT IBU memproduksi atau mendapatkan sertifikasi SNI yang diterbitkan atau yang dibuatkan Badan Standar Nasional Indonesia," tambah dia.
Deskrispi mutu yang dibuat SNI itu, lanjut dia, merupakan parameter visual atau fisik bukan pada jenis atau varietas berasnya. "Jadi deskripsi mutu beras yang kami produksi itu sesuai dengan SNI nomor 6126 tahun 2016."Asen juga membantah pihaknya menerapkan harga tinggi kepada konsumen. Terkait masalah harga, Asen menjelaskan bahwa penetapan harga jual ke konsumen ditentukan oleh mitra penjual.
Keterangan Asen merupakan respons atas penyegelan gudang beras PT IBU di Bekasi karena diduga menjual beras biasa dengan harga premium sehingga merugikan konsumen.
Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, ada indikasi permainan bisnis secara curang dengan membuat produk bernama Maknyuss dan Ayam Jago dengan menggunakan beras dari jenis varietas padi IR64 yang merupakan tanaman subsidi, untuk kemudian dijual dengan harga beras premium.
<b>Subsidi pemerintah<p>
Keterangan berbeda disampaikan Kepala Subbidang Data Sosial-Ekonomi pada Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) Ana Astrid. Menurut dia, beras PT IBU berasal dari gabah yang diproduksi petani dengan subsidi dari pemerintah. Yang dimaksud subsidi adalah subsidi input, yaitu subsidi benih Rp1,3 triliun dan subsidi pupuk Rp31,2 triliun. Bahkan ditambah lagi ada bantuan sarana dan prasarana bagi petani dari pemerintah yang besarnya triliunan juga.
Padi varietas IR64 merupakan salah satu benih dari varietas unggul baru (VUB). "Seluruh beras medium dan premium itu kan berasal dari gabah varietas unggul baru (VUB), yaitu IR64, Ciherang, Mekongga, Situ Bagendit, Cigeulis, Impari, Ciliwung, dan Cibogo yang diproduksi dan dijual dari petani kisaran Rp3.500-Rp4.700 per kilogram gabah," terang Ana.
Dari hal ini, menurut Ana, PT IBU diketahui membeli gabah/beras jenis varietas VUB dan harga beli dari petani relatif sama. Selanjutnya diolah menjadi beras premium dan dijual kepada konsumen dengan harga tinggi.
Ini yang menyebabkan disparitas harga tinggi, marjin yang perusahaan peroleh tinggi bisa hingga 100%. Sementara itu, perusahaan lain membeli gabah ke petani harga yang sama dan diproses menjadi beras medium dengan harga normal medium. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved