Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ketergantungan Impor Pangan Harus Disetop

Jessica Sihite
10/7/2017 15:20
Ketergantungan Impor Pangan Harus Disetop
(ANTARA/M Agung Rajasa)

SETELAH dinilai sukses menstabilkan harga selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1438 H, pemerintah kembali dihadapkan dengan tantangan utama sektor pangan, terutama pengendalian impor komoditas pangan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun menyadari ketergantungan impor pangan harus diatasi sesegera mungkin. "Ke depan masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Ketergantungan kita dari impor harus diatasi," ucap Enggar di hadapan para pengusaha sektor pangan di Jakarta, Senin (10/7).

Enggar menyebut pihaknya akan membuat peta jalan (road map) perdagangan berbagai komoditas pangan. Sayangnya, ia masih enggan menyebut jenis-jenis komoditas pangan yang akan dibatasi impornya.

Hanya, impor daging dirasa masih akan sulit untuk dihentikan dalam waktu dekat lantaran produksi domestik belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Bersama dengan Menteri Pertanian kita akan susun (roadmapnya) karena beliau yang di sana, saya di bagian ujungnya (hilir)," tukasnya.

Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurman menyatakan realisasi impor sapi indukan dan bakalan masih sangat rendah. Penyebabnya, banyaknya daging impor yang dijual sehingga stok melimpah. Padahal, impor sapi indukan diatur oleh pemerintah guna menambah produksi sapi di Indonesia.

"Karena mereka (importir sapi indukan dan bakalan) khawatir dengan beredarnya daging kerbau. Bahkan, (sapi bakalan) yang sudah masuk pun ada yang belum dipotong karena harganya masih tinggi. Tapi bagusnya, masyarakat sudah menerima daging kerbau," papar Oke.

Adapun sepanjang 2017, Perum Bulog sudah memasukan 70 ribu ton daging kerbau impor dari India. Hingga saat ini, stok daging yang masih tersedia mencapai 27 ribu ton. BUMN pangan itu juga masih mengantongi izin impor daging kerbau sebanyak 51 ribu ton hingga akhir tahun. Rencananya, 5 ribu ton dari izin tersebut akan masuk dalam waktu dekat.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan kebutuhan daging kerbau nasional sekitar 8 ribu ton per bulan. Bila demikian, dari seluruh total stok dan izin impor yang dikantongi Bulog, daging kerbau beku bisa memenuhi kebutuhan hingga 9-10 bulan ke depan.

Kendati demikian, Djarot menilai impor daging bukan sebagai penyelesai masalah. Dia berpendapat impor daging mesti dibatasi dan menjaga stok daging sapi dari produksi dalam negeri.

"Target kami bukan untuk merealisasikan seluruh 51 ribu ton izin, tapi menjaga harga dan jumlah pasokan. Kalau pasokan cukup, harga akan stabil, jadi tidak perlu impor," imbuh Djarot. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya