Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Bisnis Daring Pacu Pencarian Tenaga Kerja

Budi Ernanto
03/7/2017 11:57
Bisnis Daring Pacu Pencarian Tenaga Kerja
(THINKSTOCK)

ERA digital sulit dibendung.

Masyarakat Indonesia semakin melek teknologi dan memicu kemunculan banyak perusahaan e-commerce yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Berdasarkan hasil survei yang dirilis perusahaan perekrutan Michael Page Indonesia, terjadi lonjakan permintaan tenaga kerja di sektor digital sekitar 60% selama 12 bulan terakhir.

Hal tersebut diyakini karena banyak perusahaan rintisan (start-up), teknologi finansial, dan e-commerce yang melebarkan sayap dan mendiversifikasi usaha.

Menurut Manajer Michael Page Indonesia, Imeiniar Chandra, tenaga kerja yang dicari umumnya mahir di bidang pemasaran, keuangan, serta teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK).

"Sebenarnya dilihat juga jenis usaha. Kalau perusahaan jasa, kebanyakan mencari tenaga pemasaran. Kalau di bidang teknologi, mereka mencari programer dan sejenisnya," jelas Imeiniar di Jakarta, baru-baru ini.

Perusahaan yang merekrut kebanyakan didirikan orang-orang yang baru kembali dari luar negeri, seperti Sillicon Valley, Amerika Serikat.

Pengalaman dan wawasan global yang diperoleh membentuk mereka menerapkan standar tinggi ketika menyeleksi karyawan.

Tidak jarang yang dicari ialah lulusan sekolah atau pernah bekerja di luar negeri.

"Jumlah pencarian tenaga kerja di sektor digital untuk tahun depan hingga 2019 diperkirakan masih sama sekitar 60% karena perusahaan yang membutuhkan lazimnya start-up dan mereka yang memulai petualangan di dunia digital," tandas Imeiniar.

Kendati begitu, sumber daya manusia (SDM) Indonesia rupanya masih dipandang sebelah mata.

Alasannya, menurut IMD World Competitiveness Centre, daya saing digital Indonesia berada di urutan ke-59 dari 63 negara atau hanya unggul atas empat negara, Ukraina, Mongolia, Peru, dan Venezuela.

Direktur IMD World Competitiveness Center Arturo Bris mengatakan penyebab Indonesia dan negara lain tidak memiliki daya saing digital yang tinggi, yaitu pemerintah minim investasi dalam hal pengembangan SDM di bidang TIK.

Padahal, ada relasi antara minimnya talenta dan pelatihan dengan kurangnya ketangkasan dalam berbisnis.

Arturo menilai pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan menjadi kunci.

Begitu pun seluruh dukungan pemerintah akan membantu inovasi di bidang teknologi.

Tengok saja Singapura dan Swedia yang mengembangkan peraturan dengan memanfaatkan talenta lokal sambil memfasilitasi masuknya SDM asing guna transfer teknologi.

Wajar saja Singapura bersama Swedia didapuk untuk menduduki urutan pertama dan kedua dalam peringkat daya saing digital yang dikeluarkan IMD World Competitiveness Centre.

Amerika Serikat berada di urutan ketiga karena unggul dalam pengembangan konsentrasi ilmiah, menghasilkan gagasan, dan memiliki sejarah dukungan pemerintah untuk inovasi teknologi.

Pengamat multimedia dan TIK Teguh Prasetya membenarkan pengembangan ilmu pengetahuan merupakan syarat untuk mampu menempa SDM berkualitas.

Teguh berharap pemerintah memasukkan kembali konten TIK ke kurikulum pendidikan sekolah dasar dan menengah.

"Jika dilihat APBN kita, sebesar 20% untuk pendidikan seharusnya condong ke pembentukan SDM. Namun, dilihat lagi porsi kurikulum TIK besar atau tidak dalam 20% itu," papar Teguh.

Kalau pendidikan sudah bagus, lalu ada transfer teknologi hingga memunculkan para pemain lokal, Teguh yakin bukan mustahil dalam lima tahun peringkat daya saing digital Indonesia melejit.

Terus merekrut

Beberapa start-up kepada Media Indonesia berkomitmen terus memburu tenaga kerja baru.

PT Mitra Online Perkasa (Bukukita.com) merupakan salah satu perusahaan yang akan menambah karyawan.

Pendiri dan Direktur Bukukita.com, Setiawan, mengungkapkan saat ini perusahaan masih digerakkan 12 orang.

Jumlah tersebut dianggap cukup untuk saat ini.

"Dari 12 orang, sebagian besar kurir untuk mengambil buku dari penerbit. Lalu, ada programer tiga orang. Sisanya tenaga pemasaran, admin, dan yang bertindak untuk mendata di gudang penyimpanan. Kalau harus merekrut lagi, saya rasa yang dibutuhkan kurir dan pendata di gudang," ucap Setiawan.

Kualifikasi yang diminta Setiawan saat merekrut umumnya tidak terlalu sulit untuk dipenuhi.

Mereka yang belum berpengalaman berpeluang diterima.

Khusus programer, diharapkan sebisa mungkin yang sudah berpengalaman.

Desi Kurnia, pendiri Parcelmart.com, juga berencana merekrut karyawan baru seiring dengan semakin banyaknya pesanan yang datang.

Posisi yang dibutuhkan ialah orang bertugas menangani pesanan konsumen atau admin dan yang merangkai parsel.

Sekarang perusahaan punya admin 4 orang dan 10 di bagian produksi.

Desi dan suaminya hingga kini masih dapat mengurus beberapa tugas seperti rapat dengan perusahaan pihak ketiga dan mengelola buku keuangan. Ada kalanya tugas tersebut dikerjakan admin.

"Dulu pesanan ketika masih ditangani saya dan suami masih di bawah 20 parsel. Sekarang naik dua kali lipat. Kalau pesanan bertambah lagi pasti butuh orang," ujar dia.

Persyaratan untuk bekerja di Parcelmart.com juga tidak berat. Yang penting calon karyawan harus jujur dan mau belajar. (S-4)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya