Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Para peneliti menemukan beberapa sumber air potensial yang merupakan dampak dari letusan gunung berapi jutaan tahun lalu yang terjadi di Bulan, sehingga para astronaut diprediksi bisa meminum air yang didapat dari permukaan benda langit tersebut.
Letusan tersebut menghasilkan dampak jangka panjang pada kondisi Bulan. Salah satunya adalah permukaan es yang berasal dari uap air akibat letusan.
“Mungkin 5 sampai 10 meter di bawah permukaan, Anda akan mendapatkan lapisan es yang sangat besar,” kata Paul Hayne, asisten profesor di Department of Astrophysical and Planetary Sciences (APS) dan Laboratory for Atmospheric and Space Physics ( LASP) University of Colorado Boulder, seperti dilansir Phys, Rabu (18/5).
Para ahli sepakat dan memiliki kesimpulan demikian setelah melakukan simulasi ulang menggunakan teknologi komputer untuk mengetahui kondisi bulan jutaan tahun lalu. Dari simulasi tersebut, para ahli melihat terjadi berbagai letusan gunung api di bulan menghasilkan jumlah uap air yang sangat banyak.
Hal ini mengakibatkan adanya efek seperti embun perak di permukaan bulan yang terlihat di antara pergantian siang ke malam. Para ahli juga memperkirakan Bulan pernah dilapisi oleh zat berupa es selebar 6 ribu mil persegi.
Mayoritas lapisan es itu berada di sekitar Kutub Utara dan Selatan Bulan. Namun, para ahli belum mengetahui asal-usul mengenai kuantitas dari air tersebut.
“Ada banyak sumber potensial saat ini,” kata Hayne.
Penemuan tentang lapisan es di Bulan ini juga dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal. Masih dalam jurnal yang sama, para ahli menduga bahwa 18 kuadriliun pound air vulkanik yang terjadi akibat letusan tersebut berubah menjadi es jutaan tahun lalu sehingga mengendap di bawah tanah Bulan. Akan tetapi, lapisan es tersebut tidak mudah untuk ditemukan karena berada di kedalaman tanah.
“Kita benar-benar harus mengebornya dan mencari lapisan es itu,” kata Hayne.
Sementara itu, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana mengirim kembali astronaut ke Bulan untuk menjalankan sebuah misi Artemis III. Pengiriman itu kemungkinan dapat dilaksanakan pada 2026 dengan tempat tujuan ke wilayah Kutub Selatan Bulan. Misi Artemis juga dilakukan untuk menindaklanjuti temuan air di Bulan. (M-4)
Kemitraan ini mendukung pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering and Math) bagi pemuda kurang mampu dalam program enam tahun.
Nestlé terus memberi dukungan terus mendorong karyawan perempuannya untuk berkarya di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Math).
Kontestan asal Arab Saudi meraih medali emas dalam ajang World Invention Creativity Olympics (WICO) 2022.
Egelman mengatakan penelitiannya dapat memberikan pemahaman baru dan membantu untuk membuka jalan bagi teknologi yang didasarkan pada baling-baling mini.
PRESTASI membanggakan dicetak Imran, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTsn) 1 Tangerang Selatan, Banten di Internasional Youth Metaverse Robot Challenge 2022.
INOVASI dari dunia farmasi terutama obat berbahan dari alam atau Green Pharmacy/fitofarmaka bisa menjadi jawaban bagi dunia kesehatan untuk isu penaggulangan bahan kimia.
Para astronom kini berburu tanda-tanda kehidupan di 6.000 exoplanet. Mulai dari deteksi gas atmosfer hingga misi masa depan NASA, inilah cara kita menjawab apakah Bumi itu unik.
Teleskop James Webb menampilkan detail baru Nebula Helix, memperlihatkan struktur gas, debu, dan akhir kehidupan bintang dengan resolusi inframerah tinggi.
Setelah 27 tahun berkarir dan mencetak berbagai rekor, astronot NASA Suni Williams resmi pensiun. Misi Boeing Starliner menjadi penutup karir ikoniknya.
Program Artemis tidak hanya bertujuan untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun fondasi kehadiran jangka panjang di Bulan.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
NASA berupaya menghubungi kembali pengorbit Mars MAVEN yang mendadak diam sejak Desember lalu. Peluang pemulihan menipis setelah kegagalan deteksi terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved