Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
Kerusakan lahan dan area hijau di bumi diperkirakan telah mencapai angka 40%. Angka itu diketahui berdasarkan data terkini yang dikumpulkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Melansir dari theguardian.com, Kamis, (28/4), kerusakan utamanya terjadi akibat aktivitas manusia. Peningkatan populasi manusia di banyak negara memaksa terjadinya pembukaan lahan. Baik untuk permukiman, mencari nafkah, hingga untuk kebutuhan produksi bahan baku makanan.
Degradasi lahan secara otomatis menurunkan ketersediaan sumber daya alami yang ada di bumi. Di antaranya kesuburan tanah, ketersediaan air, hingga biodiversitas flora.
Sekretasis Eksekutif Konvensi PBB untuk melawan kerusakan lahan, Ibrahim Thiaw mengatakan banyak orang mengira degradasi lahan hanya terjadi dalam bentuk pembukaan lahan hutan atau pengalihan lahan hijau menjadi area perkotaan. Padahal, menurutnya, degradasi lahan juga terjadi pada area hijau yang umumnya dijadikan sebagai lahan untuk menanam sumber pangan.
Thiaw mengatakan pengelolaan yang tidak tepat, dukungan pelestarian yang minim, hingga masalah lain seperti perubahan iklim. juga turut berpengaruh. Saat ini banyak kegiatan penanaman bahan pangan yang dipaksakan untuk dilakukan di area yang tidak tepat. Hal itu juga akan mempercepat degradasi kualitas lahan.
"Degradasi lahan bukan hanya akan memengaruhi ketersediaan pangan, air, dan bidoversitas. Lebih jauh degradasi lahan dapat menurunkan GDP negara, dan berdampak pada kesehatan masyarakat," ujarnya.
Thiaw mengatakan kalau negara-negara di dunia tak segera secara kompak melakukan upaya pemulihan, di 2050 berbagai krisis akan melanda banyak negara. Anggaran yang lebih besar harus dialokasikan.
"Setiap usaha, individu, hingga petani harus juga dibekali dengan pengetahuan tentang agrikultur yang berkelanjutan," tutup Thiaw. (M-4)
Ilmuwan temukan empat spesies baru "springtail" di Cagar Alam Yintiaoling, Tiongkok. Meski sekecil butiran beras, makhluk ini punya peran besar bagi kesehatan tanah.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Indonesia menegaskan komitmen dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa.
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved