Selasa 19 Januari 2021, 08:00 WIB

Ilmuwan Berhasil Menyembuhkan Tikus yang Alami Kelumpuhan

Deden Ronjani | Weekend
Ilmuwan Berhasil Menyembuhkan Tikus yang Alami Kelumpuhan

Sam YEH / AFP
Tikus (ilustrasi)

SEJAUH ini kelumpuhan akibat kerusakan sumsum tulang belakang tidak dapat diperbaiki. Namun, dengan pendekatan terapeutik baru, tim ilmuwan dari Departemen Fisiologi Sel di Ruhr-Universität Bochum (RUB) yang dipimpin Profesor Dietmar Fischer untuk pertama kali berhasil membuat tikus yang lumpuh dapat berjalan kembali. 

Dilansir dari news.rub, menurut riset yang diterbitkan di Journal Nature Communications pada Jumat (15/1) kunci kesembuhan tikus lumpuh tersebut adalah berkat penelitian terhadap protein hyper-interleukin-6 yang menstimulasi sel-sel saraf untuk beregenerasi, dan cara bagaimana ia disuplai ke hewan. 

Fischer menjelaskan, cedera saraf tulang belakang disebabkan oleh kerusakan serabut saraf, yang disebut akson, yang membawa informasi dari otak ke otot dan punggung dari kulit dan otot. Jika serat ini rusak karena cedera atau penyakit, komunikasi ini terputus. Karena akson yang terputus di sumsum tulang belakang tidak dapat tumbuh kembali.

Fischer mengatakan, penelitiannya berhasil mengungkap perancang protein dapat merangsang regenerasi.  “Ini disebut perancang sitokin, yang berarti tidak terjadi seperti ini di alam dan harus diproduksi menggunakan rekayasa genetika,” jelasnya.

Menurutnya, terapi gen hanya untuk beberapa sel saraf dapat merangsang regenerasi aksonal berbagai sel saraf di otak dan beberapa saluran motorik di sumsum tulang belakang secara bersamaan.

"Pada akhirnya, ini memungkinkan hewan yang sebelumnya lumpuh yang menerima perawatan ini untuk mulai berjalan setelah dua hingga tiga minggu. Ini merupakan kejutan besar bagi kami pada awalnya, karena tidak pernah terbukti sebelumnya setelah paraplegia penuh," kata Fischer.

Tim risetnya kini tengah meneliti sejauh mana pendekatan yang dilakukannya dapat dikombinasikan dengan langkah-langkah lain untuk mengoptimalkan administrasi hyper-Interleukin-6 lebih lanjut dan mencapai peningkatan fungsional tambahan. Mereka juga meneliti apakah hiper-interleukin-6 masih memiliki efek positif pada tikus, bahkan jika cedera terjadi beberapa minggu sebelumnya. 

"Aspek ini akan sangat relevan untuk diterapkan pada manusia. Kami sekarang sedang melakukan terobosan ilmiah baru.  Eksperimen lebih lanjut ini akan menunjukkan, antara lain, apakah mungkin untuk mentransfer pendekatan baru ini kepada manusia di masa depan," tegas Fischer. (M-4)

Baca Juga

Ist

Start-up Lokal Ini Padukan Kopi dan Ayam Goreng

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 25 Februari 2021, 22:00 WIB
Ayam goreng merupakan salah satu  makanan yang paling disukai masyarakat...
Daniel ROLAND / AFP

Berburu jadi Gaya Hidup Baru Generasi Muda di Jerman

👤Adiyanto 🕔Kamis 25 Februari 2021, 16:30 WIB
Lisensi berburu kini semakin populer di Jerman, negara yang mayoritas penduduknya gemar mengonsumsi...
Unsplash/ Jason Leung

Koi Tertua di Dunia Diperkirakan Berusia 226 Tahun

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 25 Februari 2021, 14:45 WIB
Ikan bernama Hanako itu mati pada 1977 dan usianya diyakini masih yang terpanjang hingga saat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya