Minggu 29 November 2020, 00:55 WIB

Belajar dari Sepak Bola

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Belajar dari Sepak Bola

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

 

MENURUT Jean-Paul Sartre, sepak bola ialah metafora kehidupan. Seperti halnya hidup, ada aturan yang mesti dihormati. Ada reward and punishment, juga konflik, serta tujuan. “Bagi saya, pertandingan itu hanyalah serangkaian pertempuran individu, yakni pihak lawan berusaha untuk menghentikan pemain saya. Itu sebabnya mengapa saya memberi kebebasan tak terbatas kepada mereka, tapi tentu saja harus tetap menghormati aturan,” begitu tulis filsuf Prancis tersebut dalam biografinya.

Pemikiran itu bukan sekadar hasil renungan di sunyinya sudut perpustakaan atau hasil kongko di kafe-kafe yang bertebaran di Paris bersama kekasihnya, sang pemikir feminis Simone de Beauvoir. Seperti halnya Albert Camus, Sartre menekuni langsung sepak bola. Jika Camus pernah menjadi kiper di masa remajanya, di era 1960-an Sartre melatih kesebelasan Stade Saint-Germain, sebelum merger dengan Paris FC yang kini menjadi Paris Saint Germain.

Sebagai pelatih, taktiknya unik. Sartre tidak pernah memasang striker. Menurut dia, ketiadaan seorang penyerang biar bagaimana pun sama efektifnya dengan keberadaannya. Ketiadaannya akan menghantui lapangan dan juga lawan. “Lagi pula, dia tidak akan pernah terjebak offside,” ujarnya seperti dikutip Tribe Football.

Menurut Sartre, manusia ditakdirkan bebas. Oleh karena itu, dia selalu memberi tahu para pemainnya sebelum pertandingan untuk memanfaatkan ‘takdir’ itu di lapangan, selama itu masih sesuai koridor aturan. Entah apa yang bakal dikatakan sang filsuf eksistensialis itu jika melihat ulah Diego Maradona yang mencetak gol ke gawang Inggris dengan tangannya di perempat final Piala Dunia Meksiko, pada 1986, atau aksi Eric Cantona yang menendang penggemar Crystal Palace, saat dia membela Manchester United di awal Januari 1995. Pertanyaan yang sama mungkin juga bisa diajukan terkait dengan ulah Zinedine Zidane yang menanduk dada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006.

Beberapa tahun kemudian, Maradona memang mengakui kecurangannya dan ia menyebut gol itu sebagai ‘Gol Tangan Tuhan’. Begitu juga Zidane yang menyesali kebodohannya. Sebaliknya, Cantona tidak pernah menyesal. “Saya menyukainya dan saya tidak menyesalinya. Saya bukan panutan.Saya hanya manusia yang memiliki emosi,” kata pemain Prancis itu, bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut.

Beberapa hari lalu, lewat video animasi berjudul What would Sartre make of the footballer who stood by his decision to kick a fan? yang diunggahnya di Aeon.co, Nigel Warburton, editor senior konsultan di situs tersebut, merenungkan apakah Cantona membuktikan dirinya sebagai eksistensialis yang tidak mungkin menyerah pada tekanan untuk mengungkapkan penyesalan. Aeon.co merupakan majalah digital yang menerbitkan beberapa pemikiran sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu. Situs ini juga memuat sejumlah video, termasuk beberapa pemikiran Sartre.

Kembali ke Maradona dan Cantona, ulah mereka apa pun alasannya, menurut saya, telah mencederai sportivitas. Sepak bola bukan perkara menang atau kalah. Begitu pun dalam hidup. Manusia memang memiliki kehendak bebas, tapi ada aturan yang mesti dihormati. Siapa pun tidak boleh menghalalkan segala cara, termasuk mereka yang mungkin berhasrat bertarung menjadi penguasa di arena pilkada. Belajarlah dari sepak bola.

Baca Juga

Media Indonesia/ Kementerian BUMN

Dibacakan Erick Thohir, Puisi Indonesia Sejati Dilelang di Festival Media Indonesia

👤Bintang Krisanti 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 14:15 WIB
Lelang akan berlangsung 29 Oktober...
OPPO Indonesia

Kamera Ponsel Mencipta Ruang Estetika Baru Sinema

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 08:00 WIB
Beberapa sineas baik internasional maupun dalam negeri beberapa tahun belakangan mulai mengeksplorasi kekaryaan mereka dengan fitur kamera...
Alexander Shato/ Unsplash

Kenali Tanda Tubuh Butuh Rehat dari Media Sosial

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 06:50 WIB
Salah satu cirinya adalah jika anda mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Amendemen Konstitusi antara Ambisi Elite dan Aspirasi Rakyat

Persepsi publik mengenai cara kerja presiden lebih mengharapkan pemenuhan janji-janji politik saat kampanye ketimbang bekerja berdasarkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya