Minggu 01 November 2020, 05:20 WIB

Formula Mainstream The Swordsman

FATHURROZAK | Weekend
Formula Mainstream The Swordsman

DOK. OPUS PICTURES

SAAT memasuki masa pembukaan kembali jaringan bioskop di Tanah Air, film laga historis asal Korea, The Swordsman, tak ingin ketinggalan unjuk gigi.

Film debut sutradara Choi Jae-hoon-- yang juga menulis naskahnya--itu telah tayang di Korea sejak September lalu. Dengan mengambil latar pada abad ke-17, The Swordsman bercerita tentang sosok
pendekar pedang dan pengawal elite kerajaan, Tae-yul (Jang Hyuk).

Tae-yul ialah pengawal Raja Gwanghae dari Dinasti Joseon.

Suatu waktu, terjadi kudeta oleh para tentara pemberontak yang dipimpin Seung-ho (Jung Man-sik). Tae-yul gagal melindungi sang raja dan matanya jadi separuh buta. Ia kemudian mengasingkan diri bersama putrinya, Tae-ok (Kim Hyun-soo).

Sebagaimana banyak plot film sejenis, dapat diduga kehidupan baru Tae-yool yang tenteram tidak berlangsung lama. Kete nangannya terusik saat putrinya diculik Kurutai (Joe Taslim), yang mengabdi
kepada Dinasti Qing di Tiongkok. Alhasil, sang pendekar pun terpaksa ‘turun gunung’ demi menyelamatkan putrinya dan kerajaannya dari ancaman perbudakan.

Bila ditilik dari plot, The Swordsman mengusung konstruksi yang digunakan dalam banyak penceritaan heroisme: kembalinya sang pahlawan dari peng asingan akibat luka hati untuk menegakkan
kebenaran; menyelamatkan orang kesa yangan; atau keduanya. Begitu pula sutradara Choi Jae-hoon mengarahkan tokoh Tae-yul.

Memang, bangunan kisah ayah yang melindungi anaknya, menjadi formula yang sering dianggap laku sebagai balutan genre aksi. Sebut saja waralaba yang dimainkan Liam Neeson dalam Taken.  Formula film arus utama (mainstream) ini juga yang menjadi acuan Choi dalam menggarap penceritaan.

Sineas yang telah menekuni industri perfilman Korea selama 15 tahun tersebut memang rupanya tidak ingin mengangkat cerita yang rumit atau bertele-tele. Menurutnya, ia ingin fi lm ini menyampaikan pesan sederhana yang ringkas dan duel nan emosional.

“Ini ialah fi lm tempat pendekar pedang bertarung satu sama lain untuk keyakinan mereka masing-masing di masa kekacauan,” katanya seperti dilansir ANI.

Tidak mengherankan jika The Swordsman kemudian menampilkan aksi tarung yang ciamik. Porsi laga dalam fi lm ini dititikberatkan pada aksi Tae-yul.

Jang Hyuk, pemeran Tae-yul, dikenal sebagai aktor laga yang jarang memakai aktor pengganti. Aksi bela diri dan pedangnya saat berhadapan dengan sepuluhan prajurit Dinasti Qing yang bersenapan,
ditambah dengan koreo laga dan teknik kamera, menjadi salah satu golden scene dalam The Swordsman. Adegan tersebut akan menjadi momen sempurna kalau saja efek muncratan darah yang muncul dalam layar tidak tampak tanggung karena mengandalkan efek visual.

Bukti kualitas Joe Taslim


Untuk para moviegoers Indonesia, salah satu daya tarik yang ditawarkan fi lm ini tentunya ialah kehadiran Joe Taslim. Sebagai tokoh antagonis, ia mampu menghadirkan aura bengis sejak muncul pertama kali dalam layar dan berhasil membawakan peran yang dibutuhkan fi lm ini.

The Swordsman menjadi fi lm produksi Korea pertamanya walau bukan produksi internasional perdananya. Nama Joe Taslim sudah beberapa kali muncul dalam credit title fi lm-fi lm Hollywood, seperti Fast & Furious 6 dan Star Trek Beyond.

Perannya dalam The Swordsman menjadi salah satu pembuktian bahwa dirinya memiliki kedalaman berakting.

Dalam beberapa judul internasionalnya, Joe memang selalu terlibat dengan proyek fi lm yang membutuhkan aksi laga, seperti halnya dalam The Swordsman yang mengharuskannya beraksi dengan pedang.

Namun, di fi lm ini, personanya justru muncul saat ia berakting dengan lebih intens sebagai peran antagonis. Ini menjadi bukti, keaktoran Joe bukan saja meng andalkan kekuatan fi sik.

Posisinya juga menguatkan polaritas cerita fi lm, kedudukan antara protagonis dan antagonis. Waktu tayang (screen time) yang cukup dominan dalam The Swordsman, juga menjadi rapot biru yang berguna sebagai modal penting keaktoran Joe ke depannya.

Gender


Bila dilihat dari perspektif gender, ada upaya sutradara Choi Jae-hoon memberikan porsi peran perempuan dalam dunia yang didominasi laki-laki. Namun, masih sangat minim. Misalnya, lewat tokoh Tae-ok, yang punya pemikiran dan aksi atas hasratnya sendiri. Itu terlihat pada adegan dirinya melempar batu ke muka anak buah Kurutai saat menolong Hwa-seon, pejabat pos dagang yang tengah terpojok atau adegan Hwa-seon yang memberikan perlawanan pada trio anak buah Kurutai. Sayangnya, dua sosok ini tidak menonjol seperti para tokoh utamanya kendati tidak benar-benar pasif juga.

The Swordsman pun sebenarnya bisa tampil beda dari fi lm laga historis mainstream lain jika mampu mengolah isu perbudakan perempuan, yang sayangnya lagi, dipilih sebagai narasi kecil dalam film. (M-2)

Baca Juga

MI/ Tangkapan layar diskusi publik virtual Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Selasa (1/12) malam.

Dikhawatirkan Mulai Jenuh, Konser Virtual Perlu Terobosan

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 18:00 WIB
Penyelenggara konser virtual di Tanah Air dinilai perlu mencontoh terobosan yang ada di Korea...
Screenshot

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Ko-Produksi Film Dokumenter

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 13:03 WIB
Sebelum berjalan lebih jauh dalam ko-produksi, dproduser harus terlebih dulu menyiapkan dokumen legalnya. Akan lebih baik jika memiliki...
zoom

Ini Cara Mengelola Bisnis yang Beretika

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 03 Desember 2020, 12:47 WIB
Menurut Andy Noya buku ini hadir tepat waktu. Ia optimis kalau nilai-nilai pemikiran yang ada di buku ini justru paling tepat yang bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya