Minggu 26 Juli 2020, 00:10 WIB

Jelajah Jagat Sastra, Rupa dan Beragam Kemungkinannya

Abdillah Marzuqi | Weekend
Jelajah Jagat Sastra, Rupa dan Beragam Kemungkinannya

Dok Cikini Art Stage

ORANG itu duduk, lalu membuka suara. Selagi ia bicara, muncul bingkai-bingkai lukisan mengitarinya. Kekuatan aktor begitu terasa dengan intonasi dan ekspresi yang tajam. 

Mirip membaca cerita pendek, tetapi dengan pendekatan berbeda. Cukup sebentar memang, hanya 3 menit durasi, tapi sudah sangat bisa dinikmati secara visual, suara, maupun cerita. Flash fiction itu berjudul Yang Bermukim dalam Topeng, diunggah pada 13 Juli 2020 di kanal Youtube Cikini Art Stage.

Bentuk itu bermula dari cerita flash fiction karya Damhuri Muhammad, lalu dikolaborasikan dengan ilustrasi seni visual karya Aidil Usman. Sebagai penyuara ialah aktor Didi Hasyim, sedangkan Yandi Hardiandi berlaku sebagai sosok di balik video seni visual.

Rupanya karya itu tidak begitu saja muncul. Menarik untuk menjalajahi indukan dari karya tersebut, yakni sastra-rupa, yaitu seni rupa karya Aidil Usman berjudul Pelaminan yang Membeku dan flash fiction Doa Bersama, Memohon Kematian karya Damhuri Muhammad.

Mulanya, tentu gegara pandemi covid-19. Pembatasan sosial memaksa sebagian orang untuk tetap berdiam. Bagi para pencipta karya, kondisi itu tentu tidak bisa didiamkan. Tunduk, berarti siap menderita gerah dan gatal. Lalu, munculah pameran daring di media sosial ataupun website galeri. Marak memang, padahal karya itu awalnya disengaja untuk dipamerkan secara luring. Dalam artian hanya mendaringkan karya luring.

Kali ini berbeda, karya memang senjaga dibuat untuk media sosial. Itulah yang dilakukan Damhuri dan Aidil . Keduanya boleh berbeda dalam pilihan jenis seni. Satu berteguh dengan sastra, selainnya berkeras dalam rupa. Pandemi menyatukan keduanya. Kelindan antara sastra dan rupa.

“Yang saya lakukan adalah berkolaborasi. Ini gara-gara pandemi juga. Kita ini kan menganggur semua. Akhirnya, Aidil membuat kreativitas juga, dia menggambar. Saya memahami dunia hari ini bikin kekaryaan kolaborasi. Jadi kita tidak bisa lagi sendiri,” lanjut Damhuri.


Flash fiction

Dalam disiplin sastra ada istilah flash fiction, yakni karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. 

Oleh karena itu, cocok untuk media sosial. Para penikmat tidak harus bersanding kertas untuk membaca karya sastra, mereka hanya cukup mengikuti akun seorang sastrawan. Sebagai sastrawan, Damhuri sudah lama gelisah pada perilaku pembaca oleh pergeseran era. “Saya punya kreativitas mencari bentuk baru yang bisa beradaptasi dengan selera pembaca hari ini,” ucap Damhuri.

Ia pun memperluas distribusi karya via media sosial. Ia mengunggah satu cerita berformat seribu karakter atau kurang 1 dari halaman dengan jadwal terbit hanya seminggu sekali, setiap hari Minggu.

Masalahnya distribusi kekaryaan akan terbatas pada penikmat sastra saja. Ia harus berpikir lagi untuk membuat bentuk baru. Beruntunglah ia bertemu orang dengan pemikiran senada.

“Ini kerja kolaborasi yang sama-sama ingin memperluas distribusi penikmat,” tegasnya.

Sastra-rupa yang diusung pun punya format unik. Tidak dengan mengilustrasikan cerita, tetapi menceritakan gambar. Aidil mencipta karya seni rupa lalu direspons Damhuri dengan cerita.

“Artinya adalah saya yang mencarikan cerita untuk lukisan, bukan sebaliknya,” sambungnya.

Selain itu, menurut Damhuri, nasib seni cerita kurang baik ketimbang seni rupa. Apresiasi kekaryaan secara materi lebih tinggi seni rupa daripada seni cerita. Hal itu juga menjadi latar belakang penciptaan seni kolaborasi itu. Ia ingin ingin menumpang pada seni rupa.

Kemudian secara tidak sengaja, kolaborasi sastra-rupa itu melahirkan banyak bentuk turunan, seperti karya dalam medium suara, panggung, dan ilustrasi videografi . Mulanya hanya berbasis Instagram, lalu kemudian menjalar ke media sosial lain, seperti Youtube dan Podcast.

Menurut Damhuri, saat ini terjadi anomali. Selama ini muncul anggapan, dunia maya dikuasai konten berbasis gambar bergerak. Nyatanya, dalam beberapa bulan terakhir muncul kecenderungan tren baru yang menempatkan suara sebagai pilihan. 

Itu pula konten berbasis suara lalu bermunculan. Tentunya dalam platform digital yang mengutamakan suara. Hal itu membuat karya sastra-rupa banyak diambil orang untuk diolah menjadi karya audio lalu diunggah di media sosial masing-masing.

Damhuri membiarkan itu. Baginya, itu adalah bagian dari apresiasi publik terhadap karya kolaborasi. “Saya berpikir apa yang direspons temanteman muda--mereka ingin menjadi pengisi suara, itu bagian dari apresiasi mereka. Mereka senang. Tidak harus di-upload di Instagram kami, di Cikini Art Stage,” 

Di sisi lain, Aidil juga mengaku terbuka dengan berbagai kemungkinan respons dari karya kolaborasi awal. “Artinya banyak, dari peristiwa itu, orang meminta. Kita kan tidak bisa menahan diri, bersombong-sombong ria. Kalau ada orang mau merespons dalam pendekatan apa pun, ya kita kasih saja,” ujar perupa yang mengaku telah membuat sekitar 30 karya untuk kolaborasi itu.

Tidak berhenti dengan hanya dalam bentuk sastra-rupa, keduanya melangkah lebih jauh. Karya video di Youtube, Yang Bermukim dalam Topeng, ialah contohnya. Awalnya, ia membuat karya rupa drawing untuk cerita berjudul Malam Lebaran, Orang-Orang Merayakan Kehilangan, yang diunggah pada 23 Mei 2020. Aidil lalu beralih pada acrylic. Hingga kini, dia sudah mencipta setidaknya 30 karya untuk kolaborasi sastra-rupa.

Uniknya, setiap karya kolaborasi itu punya dua judul, yakni judul rupa dan judul karya. Misalnya, karya rupa Mematut Diri bersanding dengan cerita berjudul Yang Bermukim dalam Topeng. Sastra-rupa itu pula yang diterjemahkan dalam karya video.

“Aku selalu memberikan judul supaya judul itu menstimulasi peristiwa yang coba aku gambarkan. Aku tetap membuat judul, tapi di sisi lain, judulku dan judul Damhuri sebenarnya tidak ada jarak juga. Jadi ketemu. Antara atmosfer karyaku dan kekuatan teks dia seperti berkelindan, nggak terpisah, menyatu,” tambahnya.

Bentuk karya turunan dari sastra-rupa itu belum pula mendapat nama, termasuk karya video. Damhuri mengusulkan nama dramaturgi visual, tapi istilah itu belum memperoleh kesepakatan.

Pandemi menciptakan beragam kemungkinan. Dua di antaranya, mati atau menghidupi diri. Kondisi membutuhkan reaksi dan patut disikapi. Bagi seni, tidak segalanya tunduk pada kondisi. Ia punya jalan keluar unik. Sering kali melompat, menerobos, dan mengubah wabah menjadi wadah untuk berbagai terobosan. (M-4)

 

Baca Juga

PASCAL POCHARD-CASABIANCA / AFP

Manuskrip Napoleon tentang Pertempuran Austerlitz akan Dilelang

👤Adiyanto 🕔Kamis 21 Januari 2021, 08:00 WIB
Pertempuran di tahun 1805 dengan pasukan Rusia-Austria itu dianggap sebagai kemenangan militer terbesar...
FRANCOIS GUILLOT / AFP

Salinan Lukisan Leonardo da Vinci Berusia 500 Tahun Ditemukan

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 21 Januari 2021, 07:00 WIB
Harga lelangnya sangat tinggi yakni mencapai US$450 juta (Rp6,3 triliun). Salinannya dikerjakan seniman, Giacomo Alibrandi yang...
Unsplash.com/Jez Timms

Ilmuwan Berhasil Membuat Daging di Laboratorium

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 20 Januari 2021, 15:00 WIB
Penelitian tersebut dilakukan karena melihat tingginya permintaan daging di pasaran, sementara proses produksi daging di peternakan dirasa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya