Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mengulik Klaim Kesehatan si Garam Merah Jambu

Abdillah Marzuqi
23/7/2020 07:00
Mengulik Klaim Kesehatan si Garam Merah Jambu
Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan soal larangan penjualan bebas garam Himalaya.(123RF)

Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan soal larangan penjualan bebas garam Himalaya, yang kini bisa ditemukan dengam mudah di berbagai ritel moderen dan bahkan di lapak individual di marketplace. 

Hmmm, ibu-ibu yang suka belanja kebutuhan anak di marketplace, atau para pendamba gaya hidup sehat memang barangkali familier ya dengan jenis garam berwarna pink pucat itu. Nah, buat yang belum tahu, garam tersebut, sesuai dengan namanya, bukan ditambang dari laut, melainkan dari ditambang dari perut bumi. Tambang itu terletak di kaki pegunungan Himalaya. Setidaknya ada 4 lokasi penambangan terbesar di Pakistan, yakni Khewra, Kalabagh, Warcha, dan Jatta/Bahadurkheil.

Garam Himalaya dianggap sebagai salah satu garam paling murni yang ada di dunia. Garam itu terkubur selama ribuan tahun di bawah lapisan lava, salju, dan es. Seiring dengan anggapan itu, garam Himalaya kerap dijuluki emas pink.

Garam itu juga diklaim punya banyak manfaat kesehatan karena kaya kandungan mineral seperti seperti magnesium, kalium, dan kalsium. Kandungan itu pula yang memunculkan rona kemerahan.

Lalu, benarkah emas merah jambu itu bermanfaat bagi terapi kesehatan?

Emas merah jambu disebut mampu meringankan gejala gangguan afektif musiman (SAD), menambah energi, dan meningkatkan kualitas tidur dengan membersihkan udara dari polutan seperti debu dan serbuk sari. Ia menyerap molekul air dari udara dan melepaskan ion udara negatif penghilang partikel debu. Hasilnya, entenglah masalah pernafasan seperti alergi dan asma. Memperbaiki suasana hati, begitu klaim terapis garam Himalaya.

Melansir artikel yang diterbitkan time.com berjudul Apakah Garam Himalaya Bermanfaat bagi Kesehatan? pada 2017, beberapa riset menunjukkan ledakan ion positif dapat mengganggu suasana hati dan kesehatan fisik. Ion yang berasal dari perangkat elektronik atau udara panas itu meningkatkan rasa stres dan cemas. Memang ion negatif di udara dapat melakukan yang sebaliknya dan meningkatkan suasana hati orang. Sayangnya, belum tentu garam Himalaya menghasilkan ion negatif. Sebab, belum ada penelitian tentang itu.

"Tidak ada dukungan ilmiah untuk klaim semacam itu terkait dengan lampu garam Himalaya," ujar pendiri dan direktur program Pusat Pengobatan Integratif Universitas Arizona Andy (Andrew) Weil.

 

Bagaimana jika dikonsumsi?

Beberapa kalangan menganggap garam Himalaya punya rasa lebih enak daripada garam putih biasa ketika digunakan memasak. Mungkin ada benarnya, karena ada perbedaan pada kandungan mineral setiap jenis garam. Para pencinta garam Himalaya juga beranggapan garam itu lebih sehat karena kandungan mineral yang lebih kaya.

"Para pendukung mengklaim bahwa garam merah muda memiliki lebih banyak mineral daripada garam biasa - tetapi Anda tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan tambahan dari memakannya," lanjut Weil.

"Garam Himalaya Merah Muda memiliki kandungan gizi yang sangat mirip dengan garam biasa. Itu hanya lebih cantik dan lebih mahal," tandasnya.

Akhirnya, menambahkan garam merah muda dalam makanan memang dipersilakan. Tapi jangan berharap mendapat manfaat kesehatan khusus.

 

Kaya mineral? 

Sementara itu, dilansir artikel dari medicalnewstoday.com, garam Himalaya memang memiliki kandungan mineral lain dari garam putih, seperti kalium, magnesium, dan kalsium. Ini pula yang menjadikan perbedaan warna, sekaligus menjelaskan perbedaan rasa garam.

Namun, garam Himalaya, sebagaimana garam putih, mengandung natrium klorida hingga 98%. Itu berarti hanya sekitar 2% kandungan berbagai mineral tersebut.

Selain itu, jumlah konsumsi garam manusia juga terbatas. Tidak mungkin makan garam sepiring penuh. Artinya, konsumsi garam Himalaya tidak serta merta memberikan manfaat kesehatan yang terukur atau signifikan.

Ada anggapan garam Himalaya lebih rendah sodium daripada garam biasa. Lagi-lagi. Mohon diingat, kedua jenis garam itu sama-sama mengandung sekitar 98% natrium klorida.

 

Lebih irit pemakaian?

Kristal garam Himalaya punya ukuran lebih besar daripada garam meja, sehingga memiliki rasa lebih asin. Karena ukuran itu pula, garam merah jambu juga dianggap lebih hemat jika diperlukan dalam ukuran yang sama, semisal dalam ukuran satu sendok teh.

Padahal, garam merah muda juga tersedia dalam ukuran butiran yang lebih kecil yang lebih menyerupai garam biasa.

American Heart Association (AHA) menyebut lebih dari 75% asupan natrium berasal dari garam yang sudah ada dalam makanan olahan. Artinya, garam masak hanya punya sedikit tempat dalam tubuh manusia.

 

Lebih alami?

Garam Himalaya diklaim lebih alami. Klaim itu sepertinya agak tepat. Bagaimanapun, garam laut biasanya disuling lalu dicampur dengan bahan pencegah penggumpalan, seperti natrium aluminosilikat atau magnesium karbonat. Sedangkan garam himalaya biasanya tidak mengandung aditif.

 

Cegah dehidrasi? 

Garam Himalaya disebut mencegah dehidrasi. Memang benar demikian, tapi tidak khusus garam Himalaya, garam lain pun demikian.

Secara umum, tubuh membutuhkan garam. Ada penelitian yang menunjukkan konsumsi garam dapat mengurangi risiko infeksi dan membunuh bakteri berbahaya. Bahkan ada salah satu riset pada hewan yang menunjukkan garam diduga memiliki efek positif pada gejala depresi.

Selain itu, kandungan sodium dalam garam diperlukan untuk membantu tubuh:

- Kontraksi otot dan relaksasinya

- Menjaga keseimbangan cairan dan mencegah dehidrasi

- Mengirimkan impuls sistem saraf

- Mencegah tekanan darah rendah

(Berbagai sumber/M-2) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irana Shalindra
Berita Lainnya