Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Wabah penyakit menular seperti virus korona Covid-19 tak dapat dimungkiri memang cukup berbahaya bagi 'kesehatan fisik' manusia. Akan tetapi, banyak juga yang lupa bahwa di tengah kecemasan akan pandemi tersebut, kesehatan mental juga perlu dijaga.
Psikolog sekaligus pemerhati 'Pertolongan Pertama Pada Masalah Kesehatan Mental (Emotional First Aid)', Guy Winch, dalam ceramahnya di TED mengatakan bahwa kedudukan 'kesehatan mental' dan 'kesehatan fisik' pada dasarnya sama-sama penting.
Sebagai gambaran, ia mengatakan bahwa seseorang mungkin sering mengatakan 'biarkan berlalu, itu hanya di pikiranmu', ketika ada teman atau sahabat bercerita soal 'putus cinta'. Akan tetapi, lanjutnya, apakah kata-kata tersebut juga dapat dilontarkan kepada mereka yang tengah mengalami patah tulang kaki setelah jatuh dari sepeda?
Berangkat dari analogi tersebut, Winch sebenarnya ingin mengatakan bahwa masalah 'kesehatan mental' dan 'kesehatan fisik' manusia memiliki urgensi setara. Membiarkan orang berlarut-larut pada kecemasan yang dialaminya ialah seperti menyayat-nyayat luka yang sudah terlanjur menganga, dan oleh karena itu tidak boleh dibiarkan berulang terlalu lama.
Begitu juga dengan kasus pandemi Covid-19, seseorang jangan sampai terlalu larut dalam paranoia. Rasa takut dan cemas berlebih hanya akan memperburuk kesehatan mental, yang juga memengaruhi imunitas tubuh.
Ada beberapa kiat yang diharapkan dapat membantu kita menjaga kesehatan mental, seperti dikutip dari situs www.mentalhealth.org.uk. Berikut di antaranya:
1. Hindari spekulasi
Informasi ialah salah satu kebutuhan mendasar manusia. Hanya saja, jika ia diselubungi banyak spekulasi atau rumor, pada akhirnya hanya akan memunculkan kecemasan dan ketakutan yang berlipat ganda. Dalam kondisi seperti ini, seseorang perlu mengakses informasi yang berkualitas, baik dari instansi pemerintah, dinas kesehatan, atau media massa yang memang sudah terkenal dengan validitas atau presisi informasinya.
2. Galang dukungan emosional
Dalam keadaan takut, cemat, atau penuh tekanan, cobalah tetap terhubung dengan teman, sahabat, rekan kerja, atau keluarga. Mengobrol dengan mereka melalui saluran seperti surel, apliaksi percakapan, atau media sosial dengan tema lucu atau menyenangkan dapat menjadi 'dukungan emosional'. Perlu diingat kembali bahwa selama bercakap Anda harus menolak untuk menyepekulasikan masalah atau membumbuinya dengan hal yang bersifat sensasional.
3. Libatkan anak dalam percakapan
Melibatkan keluarga dan anak-anak dalam rencana atau obrolan bertema kesehatan adalah hal yang baik dan penting. Penggambaran yang jelas disertai antisipasi dapat membuat mereka lebih terampil dalam mengatasi pandemi yang sedang dihadapi.
4. Tetap waspada
Merasa rentan dan trauma ialah kasus yang kerap dijumpai dalam kesehatan mental. Kebanyakan orang barang kali kerap menghindari hal ini dan tidak memikirkan solusi. Akibatnya, trauma itu akan berulang ketika ia tiba di suatu momen yang mengingatkan peristiwa yang pernah dialami.
Maka dari itu, penting bagi sesorang untuk mengakui trauma atau perasaan tersebut. Ia harus dapat mencari jalan keluar dengan cara mengelola trauma itu, sehingga semakin waspada dengan persoalan yang tengah dihadapinya saat ini.
5. Tunda kesimpulan
Jangan terlalu cepat menilai dan membuat kesimpulan tentang apa atau siapa yang harus bertanggung jawab atas penyebaran 'wabah baru' ini.
Bagi seseorang yang tengah berada dalam ruang isolasi, penghakiman barang tentu dapat menjadi persoalan yang sangat menakutkan. Menjaga pikiran sembari menunggu penelusuran para ahli dalam periode tertentu lebih jauh berharga bagi kesehatan mental pada diri sendiri, dan akan lebih baik jika diikuti dengan relaksasi atau olahraga ringan (workout) yang dilakukan secara mandiri. (M-2)
Online personal training (PT) menjadi semakin populer, didorong oleh pengaruh platform media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Hal terpenting dalam memulai perjalanan menjalani hidup sehat terutama berolahraga adalah niat dan usaha untuk memulainya meskipun terkadang menjadi sebuah tantangan.
Skin barrier berfungsi sebagai pelindung alami kulit. Kalau wajah terus terpapar sinar matahari, lapisan ini bisa rusak.
Upaya untuk membiasakan anak menerapkan pola makan sehat bisa mulai dilakukan pada masa pengenalan MPASI, ketika anak berusia sekitar enam bulan.
Temukan 50 tips sehari-hari praktis untuk mempermudah hidup Anda di 2025. Hemat waktu, uang, dan tenaga dengan trik sederhana ini!
Batuk pilek yang berulang selain mengganggu perkembangan anak, kondisi ini juga bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan lain jika tidak ditangani dengan baik.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved