Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi Generasi Y, tiada musik lebih asyik selain musik dan lagu-lagu era '90-an. Namun, generasi sebelumnya ternyata punya pendapat berbeda.
Coba tanyakan kepada mereka yang lahir di era 1950-an, pasti musik terbaik ialah yang hits di era '60 dan '70-an. Sementara itu, musik-musik di era berikut, sekadar, yah OK.
Mengapa begitu? Mengapa semakin tua kita, semakin sulit menyukai musik dan lagu baru?
Menurut Profesor Psikologi Francis T McAndrew, selera musik seseorang mulai mengkristal sejak usia 13 atau 14. Kemudian, saat kita berusia awal 20-an, selera ini telah 'terkunci' dan cenderung ajek.
Faktanya, penelitian telah menemukan bahwa pada saat kita berusia 33 tahun, kebanyakan dari kita telah berhenti mendengarkan musik baru. Adapun lagu-lagu populer yang dirilis ketika Anda masih remaja awal cenderung tetap cukup populer di kalangan kelompok usia Anda selama sisa hidup Anda.
Mungkin ada penjelasan biologis untuk ini. Ada bukti bahwa kemampuan otak untuk membuat pembedaan antara akor, ritme, dan melodi semakin memburuk seiring bertambahnya usia. Jadi, tampaknya, untuk orang yang lebih tua, lagu-lagu yang lebih baru dan kurang familier mungkin “terdengar sama.”
Namun, menurut McAndrew, ada beberapa alasan sederhana untuk penolakan seseorang terhadap musik dari generasi yang lebih muda. Salah satu hukum psikologi sosial yang paling banyak diteliti adalah sesuatu yang disebut "efek ekposur". Singkatnya, itu berarti bahwa semakin kita terpapar pada sesuatu, semakin kita cenderung menyukainya.
Ini terjadi dengan orang yang kita kenal, iklan yang kita lihat dan, tentu saja lagu yang kita dengarkan.
Saat Anda berusia remaja awal, Anda mungkin menghabiskan cukup banyak waktu untuk mendengarkan musik atau menonton video musik. Lagu dan artis favorit Anda menjadi sesuatu yang akrab, menghibur, dan bagian dari rutinitas Anda.
Ketika di usia 30-an, urusan pekerjaan dan keluarga mengambil alih fokus kehidupan. Waktu kita untuk 'menemukan' dan kemudian menikmati musik baru menjadi lebih sedikit.
Yang ada justru kita cenderung mendengarkan lagu-lagu favorit lama yang telah akrab di telinga sedari masa kita punya lebih banyak waktu luang.
Tentu saja, tahun-tahun remaja itu belum tentu berisi hal menggembirakan belaka. Penelitian psikologi telah menunjukkan bahwa emosi yang kita alami ketika remaja tampak lebih intens daripada emosi yang muncul ketika kita lebih tua.
Nah, kita pun tahu bahwa emosi yang kuat terkait dengan ingatan dan preferensi yang lebih kuat. Semua ini bisa menjelaskan mengapa lagu yang kita dengarkan selama periode masa muda menjadi begitu berkesan dan dicintai.
Jadi, tidak ada yang salah dengan orang tua Anda jika mereka tidak suka musik Anda. Di satu sisi, itu semua adalah bagian dari tatanan alami.
"Pada saat yang sama, saya dapat mengatakan dari pengalaman pribadi bahwa tumbuh rasa suka saya terhadap musik yang dimainkan anak-anak saya ketika mereka remaja. Jadi, tentu saja bukan tidak mungkin untuk membuat orang tua Anda menyukai Billie Eilish atau Lil Nas X." (Quartz.com/M-2)
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved