Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMAJUAN teknologi komunikasi memberi banyak keuntungan. Untuk memperoleh makanan favorit, misalnya, seseorang tinggal pesan lewat aplikasi di ponsel. Namun di sisi lain, hal itu juga memicu gaya hidup tak sehat.
"Jika pemanfaatannya kurang bijak, aplikasi itu membuat aktivitas fisik seseorang menjadi berkurang," ujar edukator gizi dan diabetes RS Premier Bintaro, dr Hepi Hapsari M Gizi, pada seminar bertajuk ABC sebagai Faktor Risiko penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, yang digelar di RS tersebut, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, saat ini seseorang bisa dengan mudah memesan makanan atau minuman yang diinginkan hanya dengan mengklik layar handphone. Ditambah lagi dengan banyaknya restoran cepat saji yang menjajakan menunya lewat aplikasi itu. Padahal, makanan dan minuman yang disediakan di tempat makan cepat saji umumnya mengandung banyak lemak dan gula dengan racikan yang tidak kita ketahui kualitasnya.
"Julia Wolfson dalam jurnal Public Health Nutrition menyatakan, seseorang yang lebih sering memasak makanannya di rumah, akan lebih sedikit mengonsumsi karbohidrat dan lemak jika dibandingkan dengan orang yang lebih sering membeli makanan cepat saji," kata Hepi.
Gaya hidup yang demikian, lanjutnya, membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).
Pada kesempatan sama, dokter spesialis penyakit dalam RS Premier Bintaro, dr AB Wardoyo SpPd, menjelaskan faktor risiko penyakit jantung. Ia menyebutnya dengan singkatan ABC. A yang dimaksud, yakni A1C atau kadar gula darah tinggi/diabetes, B ialah blood pressure atau tekanan darah tinggi, dan C, yakni cholesterol atau kolesterol tinggi.
"Ketiganya, diabetes, tekanan darah dan kolesterol tinggi belum bisa diobati, tapi bisa dikendalikan dengan memodifikasi gaya hidup dan obat-obatan. Sayangnya, banyak pasien penderita tiga penyakit itu berhenti minum obat karena merasa sudah sembuh. Padahal tidak boleh begitu," kata Wardoyo. (*/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved