Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Diet Keto Bantu Atasi Sindrom Metabolik

(*/Ant/H-2)
10/4/2019 01:30
Diet Keto Bantu Atasi Sindrom Metabolik
Ilustrasi(Thinkstock)

DIET rendah karbohidrat menjadi salah satu diet yang populer belakangan ini. Masyarakat mengenalnya dengan istilah diet ketogenik atau menyingkatnya sebagai diet keto. Metode diet yang memangkas asupan karbohidrat itu memang masih menjadi perdebatan para pakar kesehatan, tetapi peminatnya tidak surut.

Menurut seorang dokter yang juga pelaku diet tersebut, dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K), diet keto sebenarnya diutamakan untuk orang-orang yang mengalami sindrom metabolik.

"Low carb keto ini enggak perlu dikerjakan semua orang karena belum tentu dia butuh. Tetapi begitu orang itu terkena sindrom metabolik, dia sudah harus memikirkan jangan-jangan jika menjalankan diet keto dia akan membaik," ujarnya saat menghadiri seminar Indonesia International Low Carb Conference (IILCC) 2019 yang digelar Low Carb Indonesia (LCI) bekerja sama dengan Low Carb USA, di Jakarta.

Kegiatan yang berlangsung 6–7 April 2019 itu menjadi wadah diskusi  ilmiah dengan menghadirkan pemateri dari kalangan medis baik dari Indonesia maupun mancanegara

Piprim yang juga konsultan jantung anak di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, itu menjelaskan, sindrom metabolik mencakup lingkar perut di atas 90 cm (laki-laki) dan 80 cm (perempuan), tekanan darah di atas 130/85 mmHg, HDL kolesterol di bawah 40 (laki-laki), dan 50 (untuk perempuan), trigliserida di atas 150, dan gula darah puasa di atas 100 mg/dL.

Piprim mengatakan, jika seseorang mengidap tiga dari lima kondisi itu, dia tergolong sindrom metabolik dan saat itulah dia perlu mempertimbangkan diet rendah karbohidirat sebagai alternatif.

"Coba saja tiga sampai enam bulan. Kalau enak lanjutkan," katanya.

Piprim sudah dua tahun terakhir menjalani diet rendah karbohidrat. Dia menuturkan, dulu dia menderita obesitas.

"Saya gemuk sejak usia 40 tahunan, setelah menjadi dokter spesialis. Puncaknya di usia 50 tahun saya gemuk sampai 95 kilogram (kg) dengan tinggi badan 173 cm, masuknya sudah obesitas," bebernya.

Keluhan terbesar Piprim saat mengalami obesitas, yakni mudah mengantuk, sulit mengikat tali sepatu dan memootng kuku ibu jari, hingga kesulitan naik dan turun tangga. Lalu, atas rekomendasi senior sejawatnya, Piprim menjalani diet ketogenik. Hingga saat ini beratnya 72 kg. (*/Ant/H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya