Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Memelihara Jiwa Kanak-Kanak

MI
30/3/2019 23:20
Memelihara Jiwa Kanak-Kanak
Di suatu adegan Sudjiwo Tejo yang memerankan karakter Kanjeng Sepuh serta Soimah Pancawati berperan sebagai seorang yang ingin maju menjadi(Dok. Yose Riandi/Indonesia Kita)

MEMASUKI  menit ke-60 pementasan, Semar ambruk. Ia tak lagi bisa melanjutkan untuk pentas berikutnya pada Sabtu (23/3). Butet Kartaredjasa yang memerankan Semar dalam lakon Kanjeng Sepuh produksi Indonesia Kita, harus turun panggung terlebih dahulu meninggalkan lakon lainnya. Jantungnya kembali kumat. Para sepuh lainnya, tetap melanjutkan tanpa ‘Semar’ pada pentas hari terakhir itu.

Kanjeng Sepuh menjadi wahana penerjemahan sang sutradara  ­Sudjiwo Tejo dalam merevisi ungkapan menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itulah pilihan. Menurutnya, yang terpenting dari menjadi tua dan tumbuh dewasa ialah tetap memelihara jiwa kanak-kanak. 

Pada awal babak, kuburan menjadi latar pengadeganan. Anak-anak yang tengah bermain, tiba-tiba menjelma jadi para orang tua. Kuburan kemudian seolah jadi representasi visual urban, ketika menjadi medium bermain anak-anak, sedangkan dialog pengaplingan makam diutarakan. 

Selanjutnya, plot mengarah pada tema klaim para orang dewasa yang merasa berhak menjadi ­titisan seorang legenda dalam mitos pewayangan. Soimah Pancawati berperan sebagai seorang yang ingin maju menjadi caleg. Ia memperebutkan status sebagai titisan asli Srikandi, dengan Yu Ningsih.

Di suatu adegan lain, hadir karakter Kanjeng Sepuh, yang diperankan Sudjiwo Tejo. Ia merupakan sosok yang merasa ketinggalan zaman. 

“Menjadi tua itu memang kepastian, tetapi yang terpenting ialah tetep harus memelihara jiwa kanak-kanak. Perdamaian dan kerukunan itu akan memungkinkan, kalau kita memiliki jiwa kanak-kanak,” kata Sudjiwo Tejo, seusai pentas di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Sepanjang pementasan Kanjeng Sepuh, ledakan tawa memang ber­derai. Sayangnya, tampak kentara sekali ketika Butet yang harusnya berperan menjadi Semar tidak hadir di panggung, dan pengadeganan harus diubah, ini terasa ada yang kurang. Bayangkan seandainya Marwoto yang menjadi titisan Semar masih harus beradu peran dengan Butet sebagai Semarnya. Ledakan tawa dan narasi pasti akan lebih jelas visinya.

Sayangnya pula, ini adalah pentas komedi. Jadi, seolah-olah apa pun yang dilakukan di panggung oleh aktor menjadi sah dengan dalih improvisasi. Selagi penonton tetap meledakkan tawa mereka. Agaknya, bagaimana pun, sutradara tidak baik bila ia ikut bermain. Itu juga yang terjadi pada Sudjiwo Tejo. 

Sutradara teater di Indonesia memang sudah terbiasa merangkap hal-hal lainnya di luar penyutradaraan, namun bila sampai ikut bermain, itu sebaiknya yang harus dihindari, agar fokus ia sebagai aktor, dan sebagai sutradara menjadi jelas. Bahkan, kerap kali Sudjiwo Tejo lupa dengan naskah. Beruntung, diselamatkan bahwa tajuk pentas ini komedi. Akan lebih baik, seandainya Presiden Jancukers itu, memilih, hanya sebagai aktor, atau duduk di kursi penyutradaraan Kanjeng Sepuh.


Antitesis muda energik

Unsur menarik dari pentas Kanjeng Sepuh yang menjadi produksi ke-31 Indonesia Kita ini ialah kehadiran Sahita. Empat wanita Jawa sepuh yang mampu mencuri panggung lewat ekspresi peran maupun tembang-tembang mereka.

Sahita merupakan kelompok teater asal Solo, dan sejak 2001 membentuk Kelompok Teater Tari Sahita. Menghadirkan Sahita di atas panggung menjadi strategi cerdas tatkala berbicara tentang kehidupan masa tua yang mungkin saja belum dapat dibayangkan kebanyakan penonton muda. Ini juga menjadi pesan ekspresif, sejalan dengan yang ingin disampaikan, bahwa menjadi tua itu penting untuk tetap memelihara jiwa kanak-kanak. 

Empat anggota Sahita itu bermain dengan apik dan lepas, sehingga kita bisa menyaksikan bahwa ­mereka bukanlah orangtua yang renta, melainkan mereka menunjukkan bahwa tua juga bisa bergembira layaknya usia kanak-kanak. (Jek/M-4).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya