Minggu 17 Februari 2019, 02:30 WIB

Kaul Cinta Kasih Ave Maryam

FATHURROZAK | Weekend
Kaul Cinta Kasih Ave Maryam

TRAILER AVE MARYAM

Biarawati, punya kaul yang menjadi jalan hidupnya; ketaatan dan kemurnian, tidak jarang terpingit sunyi. Itulah yang menjadi laku hidup.

Adalah Maryam (Maudy Koesnaedi), suster berusia 40 tahun yang punya tugas mengurusi para biarawati sepuh. Mulai dari menyiapkan makanan, memandikan, mencuci baju, sampai mengantar para sepuh itu terlelap, hingga tiba kembali waktu terang. Begitu terus. Sampai tiba suatu waktu, keteraturan hidup justru mendatangkan kekosongan jiwa. Hinggap perasaan nirmakna pada diri Maryam.

Sutradara Ertanto Robby Soediskam begitu rapi merangkum betapa sunyi kehidupan biara. Tidak ada musik gaduh atau dialog bising. Hanya rutinitas berulang yang biasa saja, terus berjalan. Sampai tiba tatapan kosong memandangi langit-la­ngit kamar, menjelang mata terlelap, seolah begitu berat menghela napas. Pengambilan gambar melalui top angle yang menyorot dekat tatapan Maryam menyampaikan pertanyaan yang sedang ia cari jawabnya.

Jawaban itu datang ketika hadir sosok Romo Yosef (Chicco Jerikho) dalam keseharian Maryam. Ia datang untuk mengajari orkestra. Namun, bagi Maryam kemudian, ia menjelma alunan musik yang mengusir kesunyi­an hidup sang biarawati.

Musik jadi jalan Romo Yosef dan Maryam bertemu dalam plot cinta kasih, yang seharusnya mereka tujukan untuk pelayanan Tuhan. Yosef mulai berani mengajak Maryam berkencan setelah pada suatu siang meminta Maryam menemaninya ke toko roti. Menitip surat pada suster sepuh, atau pada Dinda (Thania), bocah pengantar susu, jadi kebiasaan setelahnya. Satu acara makan malam kemudian berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya.

Cinta tumbuh antara Maryam dan Yosef, membesarkan hasrat keduanya, sekaligus melahirkan pergumulan batin. Hingga suatu ketika, perjalanan mereka ke pantai menjadi titik permenungan manusia memaknai cinta. Itu tepat pada ulang tahun ke-40 Maryam.

Sepulang ke asrama, ia disambut dengan perayaan oleh sesama bia­rawan dan suster sepuh yang dirawatnya. Maryam menangis. Di antara momen liris itu, ada kesedihan subtil, yang hanya mampu dibaca suster Monic (Tutie Kirana). “Aku mengerti betul perasaanmu. Me­netapi kaul, atau mengikuti pada apa yang tak terlihat. Jika surga belum pasti untukku, mengapa aku harus mengurusi nerakamu?”

Ical Tanjung, sebagai penata ka­mera menjadi jaminan bagaimana suasana Semarang era lawas berhasil disuguhkan. Colour grading dengan palet kuning keemasan mendominasi layar, selain juga nuansa temaram.

Meski film ini realis, Robby tampaknya sengaja memasukkan beberapa unsur surreal, seperti ketika Maryam membuka jendela di tengah debur ombak atau saat dialog Maryam dan Yosef disimbolkan melalui dialog dalam film di restoran, juga ketika pengakuan dosa Maryam, yang ternyata pasturnya saat itu ialah Yosef. Entah, pada adegan itu, meski terlihat realistis, tetapi terasa surreal, ketika pendosa memberikan pengampunan pada yang telah berbuat dosa. Cinta terlarang seolah templat berulang. Namun, apa yang salah, dari kesalehan saling mencintai manusia?

Film yang mengangkat kehidupan seorang suster, juga pernah muncul dalam film pendek milik Sidi Saleh, berjudul Maryam. Maryam versi Sidi diperankan Meyke Verina, bercerita seorang muslim yang menjadi suster, mengurusi tuannya, termasuk untuk beribadat ke gereja.
Ada pula film Ida, berkisah tentang biarawati --yang ternyata keturunan Yahudi-- pada era 1960-an di Polandia. Dalam perjalanan untuk menemui satu-satunya kerabat yang tersisa, ia bertemu dengan pemain saksofon dan jatuh cinta.

Ave Maryam punya kesamaan dengan keduanya: menyorot ketetapan seorang biarawati dalam memaknai jalan hidupnya.

Toleransi
Dalam film yang telah berkeliling dalam berbagai festival dalam dan luar negeri ini, Maudy bermain apik. Karakter Zaenab dari sinetron dan film Si Doel  yang selama ini melekat pada dirinya, berhasil ia kesam­pingkan untuk menjadi suster yang membaca dunia melalui buku, tidak banyak bicara, tetapi menunjukkan kemanusiannya lewat pengabdian pada pelayanan bagi sesama.

Pemilihan para aktor, seperti Maudy yang menjadi biarawati, atau Thania yang menjadi gadis kecil muslim, menurut sang sutradara bukanlah kesengajaan. Justru, para penggarap baru menyadari setelah trailer film ini dilempar ke publik dan banyak media yang menghubungi sutradara, dan menanyakan keputusan Maudy untuk jadi suster. Namun, bagi Robby, sudah menjadi keniscayaan bagi aktor, termasuk Maudy, untuk bisa berakting menjadi beragam karakter.

“Zaman sekarang, orang sudah cerdas. Banyak yang dilihat dan digemborkan terkadang terjadi intoleransi, namun yang saya lihat kenyataannya berbeda,” kata dia.

Ave Maryam juga sekaligus menyiratkan sikap toleran itu hal biasa. Hidup berdampingan dalam keberagaman merupakan hal yang lazim.

Itu paling tidak juga muncul dalam beberapa adegan, misalnya saat Dinda, bocah pengantar susu yang berbeda keyakinan, berjumpa dengan Maryam maupun suster lain di asrama. Sebab itu, film yang bakal beredar di jaringan bioskop nasional mulai 11 April ini juga memiliki sisi lain, menyeru toleransi tanpa perlu berteriak. (M-2)

Baca Juga

Dok. bebek Kelyo

5 Restoran di Jabodetabek ini Usung Tema Mini Garden yang BIkin Adem

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 23 Juni 2021, 00:01 WIB
Kini, mulai banyak restoran yang memiliki konsep mini garden untuk menghiasi tempatnya sehingga pengunjung betah berlama-lama dan berharap...
123RF/Anna Pustynnikova

Asyik, Riset ini Sebut Minum Kopi Baik untuk Hati

👤Nike Amelia Sari 🕔Selasa 22 Juni 2021, 20:42 WIB
Penambahan gula, susu, creamer, bisa mengurangi manfaat...
Dok. Instagram @stevenjam_official

Lika-Liku Karir Mendiang Vokalis Steven & Coconuttreez

👤Fathurrozak 🕔Selasa 22 Juni 2021, 14:05 WIB
Vokalis Steven & Coconuttreez sekaligus pelantun Welcome to My Paradise, Steven Nugraha Kaligis (Tepeng) meninggal dunia tadi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya