Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Bertamu ke Rumah Dugong

Tosiani
06/1/2019 03:00
Bertamu ke Rumah Dugong
(MI/Tosiani)

CUACA di Pulau Bintan pada Minggu (30/12/2018) siang teramat cerah.

Langit berwarna biru dan suhu udara tidak terlalu panas. Tengah hari tersebut, saya dan sejumlah rekan berkendara dari Lagoi menuju kawasan hutan bakau di Desa Pengudang di Pulau Bintan. Butuh 45 menit untuk sampai di tujuan.

Kami sengaja memilih wisata mangrove sebagai salah satu wisata alternatif Pulau Bintan, di samping pantai. Kawasan itu disebut juga mangrove Pengudang karena berada di Sungai  Pengudang sampai pertemuan dengan Pantai Batumpang.

Konon, banyak ikan duyung yang menjadi penghuni perairan tersebut, pertanda kemurnian laut masih terjaga. Keberadaan ikan duyung memang sulit dideteksi, tapi jejaknya dapat dilihat dari bekas lamung, salah satu jenis tumbuhan serupa rumput laut, yang dimakannya.

Dokumentasi di basecamp kawasan mangrove Pengudang menunjukkan sejumlah penduduk yang menemui dan menangkap ikan duyung, atau dugong dalam istilah setempat. Jika beruntung, pengunjung dapat melihat penampakannya. Sementara itu, di malam hari, kunang-kunang yang beterbangan di atas sungai jadi daya tarik tersendiri.

Wisata mangrove Pengudang dikelola Comunity Base in Turism Bintan STD (Sustainable Turism Development). Ketua komunitas, Iwan Winarto, mengatakan, wisata mangrove merupakan inisiatif penduduk lokal. Dikelola secara swadaya sejak sekitar 1,5 tahun terakhir agar mereka mendapat limpahan dampak wisata dari Lagoi yang selama ini sudah dikelola asing.

“Awalnya kita bentuk pondok base, ada bantuan alat snorkeling. Dari universitas juga ada pengabdian masyarakat dan dibuatkan website,” kata Iwan.

Dalam 1,5 tahun tersebut, progres wisata hutan bakau itu disebutnya luar biasa bagus. Berbekal promosi via media sosial, turis mulai datang berkunjung menikmati sensasi menyusuri daerah mangrove. Tercatat rata-rata 400-an wisatawan berkunjung setiap tahun.

Pihak komunitas menyediakan pemandu dari kalangan penduduk lokal. Menggunakan perahu-perahu kecil, mereka memandu kami menyusuri sungai menuju rumah kelong atau rumah apung guna melihat aktivitas para nelayan di area muara. Lalu, pengunjung diajak berbalik ke arah sungai untuk menyusuri area pohon apel laut sekitar mangrove di sisi kanan dan kiri.

“Untuk keselamatan, tiap pengunjung wajib mengenakan baju pelampung yang kami sediakan. Itu sumbangan Kementerian Pariwisata. Adapun perahu yang kami punya dua. Kalau tamu ramai, kami menggunakan tambahan dari perahu nelayan,” tutur Iwan.

Total lintasan area tur mangrove sejauh 20 km, tetapi pengunjung dapat mempersingkatnya pada jarak pulang balik 14 km. Lebih pendek lagi pun bisa. Pihak pengelola juga menyediakan paket khusus tur mangrove sekaligus snorkeling dan barbeque di pantai.

“Pengudang masih alami. Biota laut masih banyak kita jumpai,” ucap Iwan. Selama ada dugong, lanjutnya, menandakan kondisi alam masih bagus. Bahkan, pihak desa berencana untuk membuat dugong center.

Sayangnya, saya tak berjodoh dengan sang dugong selama tur tersebut. Namun, selama alam terus terjaga, satu waktu saya tentu dapat bersua. Seusai tur, Iwan membawa kami ke rumah kayu milik seorang warga bernama Ahmadun, 40. Lokasinya sekitar 2 km dari base mangrove. Di situ, Ahmadun membangun instalasi seni berupa miniatur negara-negara di dunia. Instalasi seni itu dibuat dari sampah-sampah laut yang ia kumpulkan setiap hari.

“Saya tidak menarik biaya pada tamu ke sini. Saya akan menyambut baik kedatangan semua tamu,” tutur Ahmadun. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan, Luki Zaiman, mengatakan, wisata mangrove di daerahnya kini memang sedang naik daun.

“Mangrove itu kaya nilai fi losofi dan banyak manfaatnya, seperti penghasil oksigen yang tinggi, juga indikator kemurnian ekosistem dan biota laut. Apalagi untuk aktivitas malam, banyak kunang-kunang di sepanjang sungai yang ada mangrove. Itu sesuatu yang sangat unik,” ujar Luki. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya