Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Kisah Kasih yang Laris Manis

Riz/M-2
23/12/2018 01:00
Kisah Kasih yang Laris Manis
(MI/Adam Dwi)

GIA Pratama, dokter muda berusia 33 tahun ini, mengaku dirinya ialah pribadi yang hobi bercerita. Mulai soal kesehatan yang terkait dengan profesi hingga lika-liku kisah asmaranya yang menjadi viral di dunia maya.

Cerita Gia bahkan telah dituliskan dalam sebuah buku berjudul #Berhentidikamu yang diluncurkan pada November. Buku tersebut mendapat sambutan hangat dari para pengikut Gia dan kini tengah dicetak ulang penerbitnya, Mizan Pustaka.

Kendati buku tersebut bertutur soal perjalanan cinta suami dari Syafira Imaniar itu, ia mengatakan isinya tak melulu soal romansa.

"Tulang punggung dari buku ini memang cerita tentang pencarian cinta, tapi tulang-tulang rusuknya adalah cerita kehidupan di rumah sakit. Keseruan, keharuan, ketegangan, kebahagiaan, campur aduk semua," tutur Gia saat diwawancarai Media Indonesia, di Jakarta, Selasa (4/12).

Ia pun menyertakan bonus bagi para pembaca yang melakukan preorder atas buku perdananya tersebut. Tanda tangan dan QR code yang dapat dipindai untuk mendapatkan tautan ke lagu-lagu soundtrack #Berhentidikamu.

"Bukunya saya tanda tangan karena ini seperti resep bagi saya. Jadi, saya menulis resep dengan racikan berisi tiga hormon, yaitu oksitoksin, endorfin, dan dopamin. Dopamin itu akan membuat pembaca fokus, oksitoksin akan membuat pembaca empati karena pernah merasakan apa yang ditulis, dan endorfin akan membuat pembaca lega dan bahagia. Ketiganya ini akan terinfus saat Anda baca buku ini," beber Gia.

Soal menulis, pria berusia 33 tahun itu mengemukakan dirinya punya sosok panutan. Sosok-sosok yang memberinya inspirasi tersebut ialah penulis/komedian/aktor Raditya Dika dan Ernest Prakasa.

Ia pun tak sungkan menyebutkan gaya menulisnya mirip dengan kedua penulis favoritnya tersebut.

"Ada dua orang yang membuat saya mau menulis dan buat buku, yaitu Raditya Dika dan Ernest Prakasa, makanya gaya menulis saya mirip-mirip, karena kisah sehari-hari dengan sudut pandang orang pertama," jelas Gia.

Tidak hanya menulis, penggemar klub sepak bola Manchester United tersebut juga hobi berolahraga, terutama lari pagi. Ia menjelaskan, organ tubuh yang paling bahagia saat manusia berolahraga ialah otak, bukan otot. Itu lantaran otak akan memproduksi hormon endorfin berlimpah saat berolahraga.

"Endorfin itu induknya morfin. Karena tubuh kita didesain untuk bergerak dan makhluk hidup dengan sendi terbanyak itu adalah manusia," pungkas Gia yang tertarik mendalami ilmu manajemen rumah sakit tersebut.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya