Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Peyorasi Milenial

Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia
15/9/2018 21:00
Peyorasi Milenial
(DOK PRIBADI)

MILENIAL. Istilah ini menarik perhatian saya yang berawal dari kejengkelan karena ketidakseragaman penulisan. Ada yang menulisnya dengan millenial, ada pula dengan millennial.

Dalam KBBI versi daring, penulisan yang benar ialah milenial dengan arti '(1) berkaitan dengan milenium; (2) berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an'.

Akan tetapi, saat berselancar di internet, saya pun menemukan hal menarik, ternyata kata milenial sudah mengalami peyorasi akibat cara pandang terhadap kata ini.
Istilah milenial atau generasi milenial menjadi bahan perbincangan, terutama jika berkaitan dengan teknologi, pendidikan, moral, hingga budaya. Istilah itu pada awalnya diciptakan dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe, yakni generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an. Dalam beberapa artikel, generasi ini sering pula disebut dengan istilah generasi Y,  generation me, atau echo boomers.

Di Indonesia, generasi milenial mendapat perhatian yang cukup istimewa karena dianggap memiliki beberapa potensi, di antaranya wawasan.  Kemampuan dalam menggunakan teknologi inilah membuat generasi ini dianggap berwawasan luas. Karakteristik lain yang juga dimiliki generasi ini ialah berpendidikan cukup baik, kreatif, percaya diri, dan perhatian terhadap isu-isu publik. Pada 2020-2030, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 180 juta penduduk berusia produktif yang berasal dari generasi ini.

Pada Pemilu 2019, generasi milenial dianggap berperan penting menentukan hasil pemilu. Sebab, jumlah mereka diperkirakan mencapai hampir separuh dari total pemilih. Tak mengherankan jika para kandidat presiden dan politikus berlomba-lomba menarik simpati generasi ini menjadi pendukung setia.

Akan tetapi, di balik pandangan dan harapan positif terhadap generasi ini, sebuah artikel dari Wall Street Journal malah mempermasalahkan istilah milenial yang dianggap sudah tak pantas lagi dipakai. Wall Street Journal menilai istilah milenial telah menjadi ejekan sinis yang mengambarkan sebuah generasi narsis yang ketagihan Snapchat serta benci kerja keras dan kritik.

Media berita Barat lainnya bahkan ada yang menyarankan agar istilah milenial dihentikan sama sekali dan diganti dengan istilah semisal generasi Y atau generasi internet. Karakter paradoksal seperti sensitif, egois, mudah tersinggung, dan suka mengeluh yang inheren pada generasi itu tampaknya telah membuat media massa Barat enggan menggunakan term ini lagi.

Jason Dorsey, presiden dan peneliti tentang milenial di Centre for Generation Kinetics, berpendapat istilah milenial sering dianggap negatif karena generasi ini sering digambarkan dari sudut pandang negatif. Pengubahan istilah tidak serta-merta dapat mengubah kesan negatif itu. Menurutnya, sebutan milenial bisa tetap digunakan untuk menunjukkan julukan pada generasi tertentu, lengkap dengan sifat baik dan buruknya. Yang harus dihindari ialah penyebaran stereotip terhadap suatu kelompok (generasi) karena setiap orang pada dasarnya tak suka dipandang secara stereotip.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya