Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PASCADEKLARASI nama bakal calon presiden dan wakil presiden semakin banyak kelompok relawan bermunculan. Mereka menyatakan siap bekerja keras, bahkan berkorban untuk menyukseskan calonnya masing-masing. Inilah ‘bunga-bunga’ kontestasi politik di alam demokrasi.
Sebelumnya, terkait dengan ini, capres petahana Joko Widodo telah mewanti-wanti kepada para relawannya. Pesannya, agar mereka tidak membuat permusuhan, ujaran kebencian, fitnah, tidak mencela atau menjelekkan orang. Akan tetapi, kalau diajak berantem harus berani.
“Tapi, jangan ngajak (berantem) lo. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak (berantem), tidak boleh takut,” tambah Jokowi dalam rapat umum relawan di Sentul, Bogor, Sabtu (4/8).
Dari perspektif dunia wayang, makna pesan yang disampaikan Jokowi itu adalah agar para relawan berwatak seperti Pandawa. Lima kesatria ini tidak pernah mencari gara-gara. Akan tetapi, mereka tidak pernah gentar menghadapi dan memberi pelajaran siapa pun yang menjamah martabatnya.
Sasaran pembunuhan
Pandawa lahir di lingkungan Istana Astina. Mereka--Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa adalah putra Raja Astina Prabu Pandudewanata-Kunti/Madrim. Namun, Pandawa sejak kecil nyaris tidak menikmati kemewahan sebagai putra raja. Malah lebih dari setengah usia mereka hidup terlunta-lunta berkubang lara karena perilaku Kurawa.
Pandawa tidak pernah menyangka bahwa keberadaannya di dunia ini terus menerus dijadikan musuh oleh Kurawa, saudara sepupunya sendiri. Tapi Pandawa tidak pernah dendam dan menganggap Kurawa seteru. Mereka justru menjalani kepahitan-kepahitan hidup sebagai laku prihatin.
Kurawa adalah putra Drestarastra-Gendari yang berjumlah seratus orang. Drestarastra adalah kakak kandung Pandu lain ibu. Keduanya adalah putra Abiyasa alias Prabu Kresnadwipayana. Selain mereka, Abiyasa masih memiliki satu putra lain bernama Yama Widura.
Kurawa membenci Pandawa bermula karena Gendari menghendaki salah satu anaknya menjadi raja di Astina. Alasannya, semestinya Drestarastra yang merupakan anak sulung yang menggantikan Abiyasa duduk di singgasana. Ia tidak bisa menerima Pandu yang menjadi raja sehingga taktha kemudian jatuh ke tangan Pandawa.
Karena itulah, Gendari lalu bersekongkol dengan adiknya, Suman, untuk mengantarkan anaknya menguasai Astina. Dari sinilah Kurawa terus menerus menjadikan Pandawa sebagai musuh yang harus dibasmi.
Maka, ketika para pangeran Astina (Pandawa-Kurawa) menjalani pendadaran oleh sang guru Durna sebagai siswa Padepokan Sokalima, ini dimanfaatkan Suman sebagai momentum mengeksekusi niat busuknya. Kurawa diperintahkan menghabisi Pandawa. Namun, Pandawa selamat, malah jika tidak dipisah oleh Durna, Kurawa dihabisi Werkudara (Pandawa).
Pascagugurnya Pandu, Suman berhasil mengantarkan Duryudana, sulung Kurawa, menduduki singgasana kerajaan. Tapi, manuvernya tidak sampai di situ. Kurawa mencanangkan pembasmian Pandawa demi langgengnya kekuasaan Duryudana atas Astina.
Meski Kurawa tiada henti menjahati, Pandawa tidak pernah menganggap mereka lawan. Pun Pandawa tidak bernah berniat membalasnya. Namun, kodratnya Pandawa mesti berperang melawan Kurawa di Kurusetra yang kondang dengan sebutan perang Bharatayuda.
Dihukum di Candradimuka
Selain dimusuhi Kurawa, Pandawa berulang kali menghadapi ancaman dari para raja negara lain. Tapi semuanya dianggap ujian hidup dan Pandawa hanya melakukan apa yang mesti dijalani sesuai dengan kodratnya.
Pandawa pernah akan dijadikan tumbal oleh Prabu Jarasando, yakni ketika raja Negara Magada itu menggelar upacara Sesaji Kalaludra. Sebagai syarat, Jarasando membutuhkan seratus raja sebagai kurbannya. Ia sudah menahan 97 raja sehingga kurang tiga. Target untuk menutupi kekurangannya itu adalah Raja Amarta Prabu Puntadewa, Raja Prabu Dwarawati, dan Raja Mandura Prabu Baladewa.
Namun, Puntadewa dibantu adik-adiknya selamat. Bahkan, berbarengan dengan peristiwa itu, Pandawa malah berhasil menggelar syukuran berdirinya negara Amarta (Indraprastha) yang dikemas dengan nama upacara Sesaji Raja Suya.
Kisah lain yang menggiriskan bagi Pandawa ketika Raja Kahyangan Bathara Guru menyatakan Puntadewa sebagai ‘musuh’ yang harus dijatuhi sanksi . Bathara Narada yang menjadi utusan Guru langsung menjemput Puntadewa untuk bersamanya ke Kahyangan menjalani hukuman.
Puntadewa dinilai salah karena mengenakan kancing gelung milik dewa (Bathara Darma). Ia pun dianggap lancang akibat menggunakan kata dewa pada namanya, padahal itu merupakan hak khusus penghuni kahyangan.
Puntadewa legawa menerima hukuman. Tapi keempat adiknya, Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa menolak. Mereka berempat akhirnya bersedia menjadi pengganti Puntadewa dan siap dicemplungkan ke Candradimuka. Narada menerima dan kemudian bersama keempat kesatria itu ke Kahyangan.
Sesaat setelah kepergian mereka, Dewi Drupadi, istri Puntadewa, mendekati sang suami. Ia menanyakan kenapa tega mengorbankan keempat adiknya dihukum dewa. Seketika itu, Puntadewa sadar dan merasa bahwa dewa telah berbuat sewenang-wenang pada Pandawa.
Puntadewa yang selamanya tidak pernah marah, saat itu tampak berbeda. Raut mukanya memerah, matanya nanar dan kemudian badannya bergetar hingga kemudian berubah wujudnya menjadi raksasa sebesar gunung anakan. Ia menyebut dirinya bernama Dewa Amral.
Ia kemudian terbang ke Kahyangan menjemput keempat adiknya. Kedatangannya dihadang para dorandara, pasukan dewa. Namun, tidak ada satu pun yang mampu menghentikan langkahnya. Kahyangan kocar-kacir hingga akhirnya Bathara Guru memenuhi permintaan Dewa Amral untuk membebaskan adik-adiknya dari dasar Candradimuka.
Tidak memiliki musuh
Itulah sebagian kisah Pandawa yang selalu dimusuhi atau menjadi sasaran tindakan kesewenang-wenangan pihak lain, bahkan saudaranya sendiri. Padahal, selama hidup Pandawa tidak pernah membangun atau mencari musuh atau memusuhi siapa pun. Akan tetapi, Puntadewa dan adik-adiknya gagah berani menghadapi semuanya itu tanpa kekhawatiran atau kekatutan.
Dalam dunia pakeliran, watak Puntadewa (Pandawa) yang demikian ini yang kemudian menjadikannya juga bernama Ajatasatru, yang artinya tidak memiliki musuh. Puntadewa, sebagai sulung, memang menjadi ‘roh’ Pandawa dalam mengarungi kehidupan di marcapada.
Dalam konteks jagat politik di negeri ini, watak Ajatasatru inilah yang seyogianya menjadi inspirasi para relawan pendukung semua capres-cawapres. Jangan membangun permusuhan tetapi berani ‘berkelahi’, artinya berani bersaing atau berkompetisi secara kesatria. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved